Jasa Ukir Online – Jasa Ukiran Khas Jepara

kami menerima jasa pengukiran majapahit kuno, mataram, modern eropa dan ukiran khas jepara lainnya serta jasa design ukiran

Posts Tagged ‘ukiran jepara’

Jepara di masa Ratu Kalinyamat

Posted by amiruljepara on October 25, 2011

Masa berlangsungnya pemerintahan Ratu Kalinyamat adalah masa kejayaan aktivitas pertukangan dan perundagian yang berkaitan dengan pembangunan galangan kapal, pembuatan perahu nelayan, pembangunan rumah tradisional, istana, tempat tinggal para bangsawan, tempat tinggal atau rumah penduduk, rumah ibadah, makam dan perabot rumah tangga. Para perajin berhasil mewujudkan karya seni bernilai tinggi seperti tampak pada hasil pembangunan rumah tradisional Kudus. Bangunan itu dibuat penuh ukiran yang indah, rumit, ngrawit, ngremit, dan werit. Sesuai jamannya pembangunan rumah tradisional Kudus dipertimbangkan dengan cermat dan seksama, sehingga hasilnya dapat memenuhi kebutuhan fungsional dan memberikan kepuasan estetik yang penuh makna simbolikdan harapan hidup. Keselarasan, kesejahteraan, dan kedamaian nampaknya merupakan tujuan utama umat manusia, hal itu terbungkus dalam berbagai bentuk ornamentasi, seperti terekam dalam hiasan berbentuk tangga yang melambangkan jalan masuk sorga, atau lalu lintas turun-naiknya roh-roh nenek moyang. Hiasan swastika melambangkan keserasian dan keseimbangan hidup, hiasan pucuk rebung dimaksudkan sebagai gambaran tunas muda yang tumbuh dan merefleksikan regenerasi, kesuburan, dan kelangsungan hidup. Hiasan kala-makara merupakan gambaran terpautnya dunia atas dan dunia bawah atau hubungan kasih saying ibu dan anak, yang selanjutnya dikaitkan dengan kasih saying Dewi Sri Pelindung kesuburan tanah pertanian.

Ekspresi seni seperti dijelaskan di atas lazim terjadi dan dilakukan oleh perajin sehingga karya yang dihasilkan mempunyai arti penting sebagai catatan peristiwa, rekaman pola piker, perlaku hidup, pengetahuan, dan keterampilan masyarakat pendukungnya, yang disalurkan melalui perwujudan karya seni. Sistem pewarisan keahlian itu dilakukan secara turun temurun sehingga cabang seni ini dikategorikan sebagai seni tradisional.

Karya seni yang merepresentasikan nilai-nilai adiluhung seperti tercermin pada rumah tradisional Kudus, adalah salah satu tipe bangunan berstruktur kompleks, unik,ngremit, werit yang sampai kini tetap dikagumi masyarakat dan menjadi kebanggaan bangsa. Kekaguman itu tersirat dalam ungkapan simbolik yang berbunyi “ lembut bagaikan sutra dan ngrawit seperti rambut,”, suatu pernyataan yang mengakui keunggulan dan keindahan seni hasil karya perajin Jepara. Kehadiran seni tradisional itu dapat membangkitkan suasana nyaman, damai, anggun, bangga, dan monumental, bahkan menimbulkan minat untuk memiliki dan menikmatinya. Penyajian konstruksi dan ornamentasi yang disusun berlapis-lapis tumpang tindh dengan ceruk menjorok ke luar dank e dalam, mengingatkan pada tradisi seni sebelumnya seperti yang terpampang pada diding-dinding candi. Bentuk pilar dan panel dinding candi yang menjorok ke luar dank e dalam itu tampaknya melandasi penciptaan gebyok Kudus sehingga hasilnya memiliki gaya seni arsitektur yang unik dan spesifik.

Berbeda dengan hiasan panel pada dinding candi, motif hias pada panel gebyok Kudus didasarkan pada stilisasi tumbuhan, unsure-unsur geometis, pola permadani dan profil berukir. Semua itu terbangun menjadi satu kesatuan yang utuh dalam keseluruhan bentuk dekorasi dinding rumah tradisional tersebut. Motif hiasnya disusun dengan apik, cantik, estetik dan harmonis, membangkitkan rasa bangga dan kekaguman. Unsure ornament lainnya terdiri dari bentuk pilin yang disusun mirip tangga, bentuk tumpal yang menggambarkan pucuk rebung, buah nanas, swastika, meander dan banji. Bentuk sulur dan bunga padma yang menjulur tergerai pada vas bunga merupakan hamparan altar persembahan, sedangkan bentuk kaladan naga umumnya dikaitkan dengan dunia atas dan dunia bawah. Ayat-ayat suci Al Quran berupa kaligrafi Arab juga dimanfaatkan sebagai unsure hias, terutama untuk memperindah bangunan rumah ibadah, suatu hal yang menunjukkan relijiusitas masyarakat pendukungnya. Stilisasi bentuk burung dank era yang telah tersamar dalam bentuk kaligrafi arab, dewasa ini masih dapat disaksikan pada dinding makam Mantingan Jepara.

Produk lain yang kualitasnya setara dengan gebyok Kudus adalah slintru berukir tembus pandang yang berfungsi sebagai penyekat ruang untuk memisahkan ruang bagian dalam dan ruang bagian luar. Di balik slintru berukir krawangan yang indah dan rumit itu tersimpan maksud-maksud simbolik untuk menggambarkan alam piker orang Jawa. Slintru yang diukir tembus pandang (krawangan) kecuali berfungsi sebagai tirai pembatas, juga berguna untuk mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di luar ruang dalam dalam. Hal ini mencerminkan sikap hati-hati dan waspada. Hiasan pada mahkota slintru umumnya mengacu pada bentuk meru, suatu motif hias yang lazim dimanfaatkan pada produk seni zaman purba.

Produk lain yang memperlihatkan kualitas tinggi ialah gayour gong, yang terbuat khusus untuk upacara seremonial. Dilihat dari segi desain dan ukirannya, produk itu memperlihatkan teknik keterampilan yang sempurna mantap, sophisticated dan fantastisch.

Pada zaman pemerintahan Ratu Kalinyamat, bentuk barang dan unsure hias Eropa juga mwewarnai kegiatan pertukangan dan perundagian. Hal itu dapat diketahui melalui hasil stilisasi bunga dengan ceruk-ceruk tajam pada pilar gebyok Kudus mirip hiasan kapitil gaya seni Khorintia. Ketika itu, gaya seni Barok dan Racoco telah mempengaruhi bentuk ukir Jepara, karena menurut Lemara, pada abad ke 16, di negeri Belanda terjadi masa peralihan dari masa kondisi tertutup ke terbuka sehingga beteng-beteng kaum bangsawan menjadi terbuka sebagai akibat terjadinya perubahan besar di Eropa Barat yang memunculkan pola hidup individual. Rumah dan kamar semakin bertamah, kebutuhan perabot secara kuantitatif juga meningkat. Pada waktu itu telah terjadi penyeberangan di bidang keahlian yang mengakibatkan munculnya para professional multi ketrampilan. Para arsitek, selain membuat rencana bangunan juga membuat rancangan mebel ukir, tanpa peduli kesulitan teknis yang dihadapi perajin. Para perajin harus memecahkan sendiri masalah teknik baru pembuatan barang produksi berdasarkan teknik konstruksi yang lebih maju. Pada abad 17, yaitu pada masa pemerintahan Louis XIV, di perancis telah berdiri pabrik Gobelins yang beroperasi dalam skala besar dengan melibatkan ratusan perajin, seniman, decorator, dan pengukir untuk membuat kereta api, permadani, dan perabot rumah tangga berukir mewah. Pada pertengahan abad 18, Inggris memproduksi barang keperluan rumah tangga yang artistik dengan kemanfaatan (utility) dan daya tahan (durability) sejalan dengan perkembangan industrialisasi. Prancis memimpin perkembangan seni mebel ukir dengan gaya Louis ke XIV yang memuncak pada gaya Louis ke XVII. Pengaruh gaya seni mebel ukir Renaisans itu kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan pada masa pemerintahan colonial gaya seni tersebut masuk ke bumi nusantara bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda dan Inggris.

Pada awalnya, barang mebel ukir yang digunakan oleh para bangsawan dan penguasa colonial diimpor dari Eropa Barat, namun beberapa sumber menjelaskan bahwa para penguasa Belanda mendatangkan tukang dari Eropa ke Indonesia untuk mengerjakan pembangunan dan pembuatan perabot rumah tangga. Mereka berbaur dengan tukang dari Cina dan Jawa sehingga terjadi pembauran gaya seni dan akulturasi budaya. Akibat pembauran tenaga teknik itu timbullah gaya seni Barok dan Racoco yang bekas-bekasnya dapat ditemukan di berbagai daerah di Jawa. Tiang bangunan ata kaki meja yang berukuran besar dan kokoh menunjukkan gaya seni Barok, sedangkan bentuk tiang bangunan, kaki kursi atau meja yang tampak ramping, mungil dan memberikan kesan ringan menunjukkan gaya seni Racoco.

Tradisi mebel ukir di jawa dimulai dari bentuk senthong dilengkapi dengan gladhak yang berada di senthong tengah rumah tinggal dan berfungsi sebagai tempat tidur. Perkembangan selanjutnya, muncul bentuk kursi yang dapat dirunut melalui keberadaan amben besar yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu sekaligus berfungsi sebagai tempat tidur. Umumnya para tamu duduk di atas amben bersama-sama dengan tuan rumah. Bentuk amben itu kemudian diberi sandaran sehingga berbentuk dengan sebutan glodhog, yaitu suatu jenis produk mebel yang berungsi sebagai tempat penyimpanan padi ata pecah belah.

Fakta yang ada menunjukkan, perkembangan mebel dimulai dari bentuk yang paling sederhana tanpa ukiran kemudian meningkat sampai pada mebel yang berukir indah, unik dan ringan. Pada akhirnya, produk mebel ukir yang dihasilkan dapat dikategorikan sebagai karya seni bermutu klasik, lengkap dengan daun meja marmer atau keramik porselin yang diimpor dari negeri China. Bahkan sudah sejak zaman dinasti Tang, keramik Cina yang berukuran serba besar sudah beredar di kawasan Nusantara, antara lain Kalimantan.

Pada abad ke 19, perkembangan industry ditandai dengan terjadinya suatu momentum teknik produksi mesin berhadapan dengan teknik buatan tangan. Beberapa indsutri mekanik membawa perubahan dramatis, seperti timbulnya industry tekstil yang makin menyudutkan unit-unit produksi kerajinan tangan.

Beberapa industry mekanik membawa perubahan dramatis, seperti timbulnya industry tekstil yang makin menyudutkan eksitensi unit-unit produksi kerajinan tangan. Peranan industry dengan memafaatkan desain produk menjadi semakin menguasai keadaan sehingga orang-orang Eropa menaruh curiga terhadap produk industri mesin. Atas jasa tulisan John Ruskin dan William Moris, timbul usaha untuk mengawinkan factor efisiensi dengan hiasan, seperti dapat diketahui melalui hadirnya perabot dari Michigan. Peristiwa itu lebih lanjut berpengaruh kuat bagi perkembangan industry seni kerajinan tangan dan industry mebel ukir di tanah air.

Abad ke 19 merupakan abad terpenting dalam pertumbuhan kegiatan industry seni dan kerajinan di kawasan Nusantara. Kegiatan industry seni dan kerajinan yang tergolong industry non-pertanian, pada decade awal abad itu menujukkan peranan yang besar bagi perekonomian masyarakat. Kegiatan industry non pertanian mulai diperhitungkan sebagai alternative pemecahan masalah ekonomi masyarakat yang sedang memburuk. Meskipun masih dalam kategori home industry, namun kegiatan di bidang mebel ukir sudah mengarah kepada unit usaha komersial dan makin menarik minat perajin, karena usaha itu telah dihargai dengan system kerja upah. Seperti dikemukakan oleh Walbeehm bahwa pada tahun 1804, para perajin sudah bekerja berdasarkan upah. Dia mengatakan, waarover hij vier dagen werk, f 2.5, terwil de groudstof-ijzer met een weinig staal hem nog geen f 0.5 kost. Lebih lanjut dikemukakan, bahwa para perajin mendapatkan upah yang lebih tinggi, terutama bagi mereka yang tinggal di pusat industry mebel ukir seperti di Jepara. Oleh karena itu, perajin banyak yang berdatangan ke pusat kota industry untuk bekerja dan memburu rejeki. Walaupun di kota besar itu , mereka dituntut memiliki multi keterampilan yang memadahi agar mampu bersaing dengan pekerja lainnya. Meskipun demikian, gelombang urbanisasi tidak terelakkan lagi. Seperti yang dinyatakan oleh Fernando, bahwa pada tahun 1828 di Pekalongan dan Banyuwangi telah terjadi the driving force of all industries and crafts.

Ketika pemerintah colonial menerapkan system tanam paksa pada tahun 1830, terjadilah degradasi nilai pada perekonomian masyarakat. Sesudah itu, kegiatan industri non pertanian di bidang kerajinan kayu menunjukkan peningkatan jumlah perajin yang sangat pesat. Semula kegiatan industri mebel ukir belum diperhitungkan sebagai unit usaha ekonomi yang berarti. Faktor fasiltias produksi, distribusi dan pemasaran menghambat perkembangannya, sehingga belum dapat menunjukkan tanda-tanda keberhasilan. Pada tahun 1840, di Rembang dan Surabaya terdapat 700 dan 920 tukang dan undagi yang mengerjakan pembuatan kapal. Selain itu kegiatan pertukangan di bidang pembangunan rumah, pembuatan mebel ukir, dan seni kerajinan lainnya terus mengalami perkembangan sebagai kegiatan usaha industry yang menguntungkan.

Pada tahun 1833-1850, jumlah perajin di tanah Jawa tercatat dari 1.209.600 orang menjadi 2.077.550 orang. Apabila pada awal pertumbuhannya terasa sangat lamban, namun setelah terbukti kegiatan industry non pertanian atau industry kecil tersebut dapat meberikan kontribusi positif terhadap perbaikan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, perkembangannya mengalami peningkatan yang cepat. Pada tahun 1850, dinyatakan bahwa: the remaining 23% of all economically active people engaged in non agricultural economic activities.

Kegiatan industry seni kerajinan dan pertukangan dipandang sebagai satu alternative pemecahan ekonomi yang tepat dan meyakinkan. Namun pada akhir tahun 1870 jumlah penguasaha industry non pertanian di Jawa menurun tajam, yaitu tinggal 8000 perajin, sebagai akibat diterapkan politik baru yaitu adanya penghapusan system feudal kea rah modernisasi yang menimbulkan sikap ragu di kalangan perajin untuk tetap menekuni bidang profesinya. Perubahan itu sesungguhnya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pemerintah colonial melalui dua sisi, yaitu melalui peroduksi rakyat dan melalui produksi perusahaan. Kegiatan perajin yang paling menonjol pada sekitar tahun 1870 an ialah pekerjaan di bidang pembangunan galangan kapal, pembuatan perahu layar, pembangunan rumah, pembuatan mebel ukir, dan industry tekstil. Perusahaan industri kapal yang aktif melaksanakan kegiatannya antara lain di Surabaya, Semarang, dan Cirebon, sedangkan di Jepara sudah tidak populer lagi sebagai daerah produsen kapal. Oleh karena itu, banyak perajin Jepara yang mengembara ke kota dan bekerja di perusahaan lain. Menurut Burger, sekitar tahun 1880-1890, rakyat mendatangi perusahaan untuk mencari pekerjaan. RUpanya, upaya penduduk untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain itu karena didorong oleh desakan ekonomi sebagai akibat berkurangnya tanah garapan. Pada akhir abad ke 19 tenaga khusus berketerampilan tinggi makin berkembang untuk melayani permintaan masyarakat di luar komunitasnya.

Di Jepara, proses produksi galangan kapal dalam jumlah kecil tetap berlangsung sampai dengan dekade ke 4 abad ke 20. Kelangsungan industri kapal di Jepara itu didukung oleh adanya pendidikan sekolah teknik negeri yang memilki jurusan perkapalan. Di jurusan itu para siswa diberi tugas praktek kerja untuk membuat kapal sesuai kurikulum yang ada. Akan tetapi sesudah tahun 1959, jurusan perkapalan itu ditutup oleh pemerintah karena dipandang sudah tidak menguntungkan bagi masa depan peserta didik. Kegiatan industri selanjutnya berkaitan dengan permbuatan perabot rumah tangga, antara lain almari, meja, kursi, bangku, slintru, dan perabot berukir lainnya. Masyarakat berusaha meniru kehidupan keraton yang dianggap ideal, mereka mencoba membuat barang kebutuhan hidup seperti yang ada di dalam istana atau keraton.

Umumnya masyarakat membuat sendiri atau mendatangkan tenaga terampil di sekitar desanya untuk membuatkan barang yang diperlukan.

Pada tahun 1880, usaha industri kecil di Jepara baru mencapai 10,5% atau 12.215 perusahaan yang melibatkan 116.456 buruh. Selebihnya sebesar 76,8 % atau sebanyak 89.332 pengusaha bergerak di bidang pertanian., 7,8% atau 9.102 usaha dagang, dan 3% atau 3.508 pengusaha bergerak di bidang layanan publik. Melihat potensi perajin yang besar di Jepara itu, RA Kartini mencoba menghimpun dan mengembangkannya. Pada dekade terakhir abad ke 19, tidak kurang dari 50 orang tenaga kerja ahli mebel ukir dikumpulkan Kartin di kompleks kabupaten Jepara untuk mengerjakan berbagai pesanan. Pesanan itu datang dari kalangan bangsawan, orang kaya, pejabat pemerintah dan orang orang Eropa Barat. Berkembangnya pesanan dari Eropa itu berhubungan erat dengan usaha Kartini mengikuterstakan karya perajin Jepara pada Pameran Karya Wanita di Den Haag tahun 1898. Karya perajin Jepara yang dipamerkan itu ternyata memancing minat pembeli dan pecinta seni di Eropa untuk membantu melestarikan dan mengembangkannya. Hal itu terbukti dengan hadirinya parat turis Eropa barat ke Jepara dan terbitnya beberapa artikel yang dimuat di media massa Eropa Barat.

sumber :  SP Gustami

Posted in Barok (Baroque) dan Rococo, Baroque, karya pengrajin, karya seni, karya tradisional, ngrawit, ngremit, profil berukir, ratu kalinyamat, Rococo, Slintru yang diukir tembus pandang (krawangan), ukir, ukir jepara, ukir kayu, ukiran, werit | Tagged: , , , , , , | 4 Comments »

Mengenal Potensi Masyarakat Jepara Sebagai Kota Ukir

Posted by amiruljepara on October 24, 2011

jasa ukir jepara

jasa ukir jepara

Satu citra yang telah begitu melekat dengan Jepara adalah predikatnya sebagai “Kota Ukir”. Ukir kayu telah menjadi idiom kota kelahiran Raden Ajeng Kartini ini, dan bahkan belum ada kota lain yang layak disebut sepadan dengan Jepara untuk industri kerajinan meubel ukir. Namun untuk sampia pada kondisi seperti ini, Jepara telah menapak perjalana yang sangat panjang. Sejak jaman kejayaan Negara-negara Hindu di Jawa Tengah, Jepara Telah dikenal sebagai pelabuhan utara pantai Jawa yang juga berfungsi pintu gerbang komunikasi antara kerajaan Jawa denga Cina dan India .

Demikian juga pada saat kerajan Islam pertama di Demak, Jepara telah dijadikan sebagai pelabuhan Utara disamping sebagai pusat perdagangan dan pangkalan armada perang. Dalam masa penyebaran agama Islam oleh para Wali, Jepara juga dijadikan daerah “ pengabdian” Sunan Kalijaga yang mengembangkan berbagai macam seni termasuk seni ukir.

Factor lain yang melatar belakangi perkembangan ukir kayu di Jepara adalah para pendatang dari negeri Cina yang kemudian menetap. Dalam catatan sejarah perkembangan ukir kayu juga tak dapat dilepaskan dari peranan Ratu Kalinyamat . Pada masa pemerintahannya ia memiliki seorang patih yang bernama “Sungging Badarduwung” yang berasal dari Negeri Campa Patih ini ternyata seorang ahli pahat yang dengan sukarela mengajarkan keterampilannya kepada masyarakat disekitarnya Satu bukti yang masih dapat dilihat dari seni ukir masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah adanya ornament ukir batu di Masjid Mantingan.

Disamping itu , peranan Raden Ajeng Kartini dalam pengembangkan seni ukir juga sangat besar. Raden Ajeng Kartini yang melihat kehidupan para pengrajin tak juga beranjak dari kemiskinan, batinnya terusik, sehingga ia bertekat mengangkat derajat para pengrajin. Ia memanggil beberapa pengrajin dari Belakang Gunung (kini salah satu padukuhan Desa mulyoharjo) di bawah pimpinan Singowiryo, untuk bersama-sama membuat ukiran di belakang Kabupaten. Oleh Raden Ajeng Kartini, mereka diminta untuk membuat berbagai macam jenis ukiran, seperti peti jahitan, meja keci, pigura, tempat rokok, tempat perhiasan, dan lain-lain barang souvenir. Barang-barang ini kemudian di jual Raden Ajeng Kartini ke Semarang dan Batavia (sekarang Jakarta ), sehingga akhirnya diketahui bahwa masyarakat Jepara pandai mengukir.
Setelah banyak pesanan yang datang, hasil produksi para pengrajin Jepara bertambah jenis kursi pengantin, alat panahan angin, tempat tidur pengantin dan penyekat ruangan serta berbagai jenis kursi tamu dan kursi makan. Raden Ajeng Kartini juga mulai memperkenalkan seni ukir Jepara keluar negeri. Caranya, Raden Ajeng kartini memberikan souvenir kepada sahabatnya di luar negeri. Akibatnya ukir terus berkembang dan pesanan terus berdatangan. Seluruh penjualan barang, setelah dikurangi dengan biaya produksi dan ongkos kirim, uangnya diserahkan secara utuh kepada para pengrajin.

Untuk menunjang perkembangan ukir Jepara yang telah dirintis oleh Raden Ajeng Kartini, pada tahun 1929 timbul gagasan dari beberapa orang pribumi untuk mendirikan sekolah kejuruan. Tepat pada tanggal 1 Juli 1929, sekolah pertukangan dengan jurusan meubel dan ukir dibuka dengan nama “Openbare Ambachtsschool” yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Teknik Negeri dan Kemudian menjadi Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri.

Dengan adanya sekolah kejuruan ini, kerajinan meubul dan ukiran semaluas di masyarakat dan makin banyak pula anak–anak yang masuk sekolah ini agar mendapatkan kecakapan di bidang meubel dan meubel dan ukir. Di dalam sekolah ini agar diajarkan berbagai macam desain motif ukir serta ragam hias Indonesia yang pada mulanya belum diketahui oleh masyarakat Jepara . Tokoh-tokoh yang berjasa di dalam pengembangan motif lewat lembaga pendidikan ini adalah Raden Ngabehi Projo Sukemi yang mengembangkan motif majapahit dan Pajajaran serta Raden Ngabehi Wignjopangukir mengembangkan motif Pajajaran dan Bali.
Semakin bertambahnya motif ukir yang dikuasai oleh para pengrajin Jepara , meubel dan ukiran Jepara semakin diminati. Para pedagang pun mulai memanfaatkan kesempatan ini, untuk mendapatkan barang-barang baru guna memenuhi permintaan konsumen, baik yang berada di dalam di luar negeri.Kemampuan masyarakat Jepara di bidang ukir kayu juga diwarnai dengan legenda . Dikisahkan, pada jaman dahulu ada seorang seniman bernama Ki Sungging Adi Luwih yang tinggal di suatu kerajaan. Ketenaran seniman ini didengar oleh sang raja yang kemudian memesan gambar permaisuri. Singkat cerita, KiSungging berhasil menyelesaikan pesanan dengan baik. Namun ketika ia akan menambahkan warna hitam pada rambut, terpeciklah tinta hitam dibagian pangkal paha gambar sang permaisuri sehingga nampak seperti tahi lalat. Gambar ini kemudian diserahkan kepada raja yang sangat kagum terhadap hasil karya Ki Sungging.

Namun raja juga curiga karena ia melihat ada tahi lalat dipangkal paha. Raja menduga Ki Sungging talah melihat permaisuri telanjang. Oleh karena itu raja berniat menghukum Ki Sungging dengan membuat patung di udara dengan naik layang-layang. Pada waktu yang telah ditentukan ki Sungging naik layang-layang dengan membawa pelengkapan pahat untuk membuat patung permaisuri.
Namun karena angina bertiup sangat kencang, patung setengah jadi itu akhirnya terbawa angin dan jatuh di pulau Bali. Benda ini akhirnya ditemukan oleh masyarakat Bali, sehingga masyarakat setempat sekarang dikenal sebagai ahli membuat patung. Sedangkan peralatan memahat jatuh di belakang gunung dan konon dari kawasan inilah ukir Jepara mulai berkembang.
Terlepas dari cerita legenda maupun sejarahnya, seni ukir Jepara kini telah dapat berkembang dan bahkan merupakan salah satu bagian dari “nafas kehidupan dan denyut nadi perekonomian “ masyarakat Jepara.
Setelah mengalami perubahan dari kerajinan tangan menjadi industri kerajinan, terutama bila dipandang dari segi sosial ekonomi, ukiran kayu Jepara terus melaju pesat, sehingga Jepara mendapatkan predikat sebagai kota ukir, setelah berhasil menguasai pasar nasional. Namun karena perkembangan dinamika ekonomi, pasar nasional saja belum merupakan jaminan, karena di luar itu pangsa pasar masih terbuka lebar. Oleh karena itu diperlukan kiat khusus untuk dapat menerobos pasar internasional.

Untuk melakukan ekspansi pasar ini buka saja dilakukan melalui pameran-pameran, tetapi juga dilakukan penataan-penataan di daerah. Langkah-langkah ini ditempuh dengan upaya meningkatkan kualitas muebel ukir Jepara, menejemen produksi dan menejemen pemasaran. Di samping itu dikembangkan “Semangat Jepara Incoporated “, bersatunya pengusaha Jepara dalam memasuki pasar ekspor, yang menuntut persiapan matang karena persaingan-persaingan yang begitu ketat .

Guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia misalnya, dilakukan melalui pendidikan Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri dan Akademi Teknologi Perkayuan dan pendidikan non formal melalui kursus-kursus dan latihan-latihan. Dengan penigkatan kualitas sumber daya manusia ini diharapkan bukan saja dapat memacu kualitas produk, tatapi juga memacu kemampuan para pengrajin dan pengusaha Jepara dalam pembaca peluang pasar dengan segala tentutannya.

Peningkatan kualitas produk dan pengawasan mutu memang menjadi obsesi Jepara dalam memasuki pasar internasional, yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan luar negri terhadap produk industri Jepara. Karena itu pengendalian mutu dengan mengacu pada sistim standard internasional merupakan hal yang tidak dapat di tawar-tawar lagi. Usaha ini dilakukan melalui pembinaan terhadap produsen agar mempertahankan mutu produknya dalam rangka menjamin mutu pelayanan sebagai mana dipersaratkan ISO 9000.

Di samping itu, perluasan dan intensifikasi pasar terus dilakukan dalam rangka meningkatkan ekspor serta peluasan pasar internasional dengan penganeragaman produk yang mempunyai potensi, serta peningkatan market intelligence untuk memperoleh transportasi pasar luar negeri. Dengan demikian para pengusaha dapat dengan tepat dan cepat mengantisipasi peluang serta tantangan yang ada dipasar internasional. Sementara itu jaringan informasi terus dilakukan melalu pengevektivan fungsi dan kegiatan Buyer Reception Desk yang ada di Jepara. Langkah-langkah konseptual yang dilakukan secara terus menerus ini telah berbuah keberhasilan yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat Jepara, berupa peningkatan kesejateraannya. Dari data yang ada dapat dijadikan cermin keberhasilan sektor meubel ukir dalam lima tahun terakhir.

Data diatas belum termasuk potensi kayu olahan , souvenir dan peti mati yang dalam tiga tahun terakhir telah berhasil dilealisir ekspornya. Untuk dapat melihat lebih jauh potensi ukir kayu ini juga dapat dilihat berbagai macam penghargaan, yang bersekala regional, nasional dan internasional, baik bagi para pengusaha, pengrajin maupun bagi pimpinan daerah.

Sumber :JeparaKab.go.id

Posted in industri kerajinan meubel ukir, Industri Mebel Ukir Jepara, Industri perabot ukiran kayu, industri seni di Jepara, industri ukir, jepara, kartini, kota jepara, kota ukir, masjid, masjid mantingan, motif bali, motif cirebon, motif jepara, motif madura, motif majapahit, motif pejajaran, motif pekalongan, motif seni ukir, motif ukiran jepara, motif-motif, para pengukir Jepara, pengrajin, pengrajin jepara, pengrajin ukir, pengukir Jepara, ra kartini, raden ajeng kartini, ratu kalinyamat, seni ukir, seni ukir di dunia, seni ukir jepara, sunan kalijaga, ukir, ukir jepara, ukir kayu | Tagged: , , , , , , , | 3 Comments »

Wisata ke bumi kartini, Jepara

Posted by amiruljepara on October 24, 2011

Jepara, kota yang dikenal sebagai bumi Kartini ini juga dikenal juga sebagai kota ukir. Dua jam perjalanan darat apabila ditempuh dari ibukota propinsi jawa tengah, semarang. Disana terdapat pantai yang dinamai pantai Kartini, lokasinya hanya 2.5 km dari pusat kota jepara.
Bangunan kura-kura raksasa menjadi dayak tarik sendiri sebagai andalan pemerintah daerah untuk meyedot wisatawan. Selain kerajinan ukir yang dapat dijadikan oleh-oleh, jepara juga penghasil buah duren yang lezat lho.
Bukan cuma pantai kartini saja yang menjadi andalan kota ukir ini, jepara juga masih punya wisata taman laut yang juga menjadi taman nasional. untuk menuju pulau karimun kita bisa langsung menggunakan kapal cepat dari semarang ataupun melalui jepara. Pantai putih yang indah ditambah dengan pesona bawah laut yang bisa dinikmati dengan snorkling menjadi catatan tersendiri bagi wisatawan.
Berikut nih jadwal pelayaran dari dan menuju pulau karimun.
Kapal motor ferry muria
Jadwal :
Rabu dan Sabtu —-> Jepara – karimun jawa
Kamis dan Senen –> karimun jawa – jepara
Harga tiket
VIP ——> Rp50.000,-
Bisnis —> Rp28.000,-
Jarak tempuh kurang lebih 4 – 6 jam
kontak pelabuhan ASDP jepara (0291)591 048
Kapal motor cepat kartini I
Jadwal :
Sabtu —–> Semarang – Karimun jawa
Minggu —> Karimun jawa – Semarang
untuk minggu ketiga setiap hari senin dan selasa—> semarang – karimun jawa
Harga berkisar antara Rp 110.000- sampai Rp 150.000,- tergantung kelas yang anda mau.
jarak tempuh 2 sampai 4 jam.
Pesawat adalah pilihan lain, Kura Kura Aviation adalah satu satunya maskapai penerbangan ke karimunjawa, terbang setiap hari senin rabu jumat dan sabtu dari Semarang.

Posted in bumi kartini, jepara, jepara juga penghasil buah duren, Kapal motor ferry muria, karimunjawa, kota jepara, kota ukir, Kura Kura Aviation, pariwisata jepara, pulau karimun | Tagged: , , , , , , , | 3 Comments »

Riwayat Ukir Jepara

Posted by amiruljepara on October 22, 2011

Pada zaman dahulu kala hiduplah pengukir dan pelukis  pada zaman Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, Jawa Timur. Pengukir itu bernama Prabangkara atau disebut juga dengan Joko Sungging. Raja Brawijaya ingin mempunyai lukisan istrinya dalam keadaan tanpa busana. Ini wujud rasa cinta sang raja. Dipanggillah ahli ukir dan lukis Prabangkara itu untuk mewujudkan keinginan Raja. Prabangkara mendapatkan tugas yang mustahil: melukis istri raja tanpa busana tetapi tidak boleh melihat permaisuri dalam keadaan tanpa busana. Harus melalui imajinasi saja. Prabangkara melaksanakan tugas tersebut. Dan selesai tugasnya dengan sempurna. Tiba-tiba seekor cecak buang tinja dan mengenai lukisan tersebut. Sehingga lukisan permaisuri tersebut punya tahi lalat. Raja gembira dengan hasil karya Prabangkara tersebut. Dilihatnya dengan detail gambar lukisan tersebut. Dan begitu dia melihat tahi lalat. Raja murka. Dia menuduh Prabangkara melihat langsung permaisuri tanpa busana. Karena lokasi tahi lalat persis seperti kenyataan. Raja cemburu dan menghukum Prabangkara dengan mengikatnya di layang-layang, kemudian menerbangkannya. Layang-layang itu terbang hingga ke Belakang Gunung di Jepara dan mendarat di Belakang Gunung itu. Belakang Gunung itu kini bernama Mulyoharjo di Jepara. Kemudian Prabangkara mengajarkan ilmu mengukir kepada warga Jepara pada waktu itu dan kemahiran ukir warga Jepara bertahan dan lestari hingga sekarang.

Ya itulah Riwayat tentang ukiran Jepara. Menarik untuk didengar. Mungkin juga memberi inspirasi bagi ide layang-layang berawak manusia. Mungkin berlebih-lebihan, bagaimana layang layang terbang dari Majapahit – Jawa Timur hingga ke Jepara Jawa Tengah? Apakah itu story atau history? Kayaknya banyak yang story deh.

Ada riwayat lain tentang furniture Jepara. Yang ini ada bukti otentik berupa artefak peninggalan zaman Ratu Kalinyamat di Masjid Mantingan.

Ukiran Jepara sudah ada jejaknya pada masa Pemerintahan Ratu Kalinyamat (1521-1546) pada 1549. Sang Ratu mempunyai anak perempuan bernama Retno Kencono yang besar peranannya bagi perkembangan seni ukir. Di kerajaan, ada mentri bernama Sungging Badarduwung, yang datang dari Campa (Cambodia) dan dia adalah seorang pengukir yang baik.  Ratu membangun Masjid Mantingan dan Makam Jirat (makam untuk suaminya) dan meminta kepada Sungging untuk  memperindah bangunan itu dengan ukiran. Sampai sekarang, ukiran itu bisa disaksikan di masjid dan Makam Sultan Hadlirin. Terdapat 114 relief pada batu putih. Pada waktu itu, Sungging memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat.

sumber : Bp.  Nasir

Posted in ahli seni pahat, ahli ukir, furniture, furniture jati jepara, furniture jepara, furniture set indonesia, jepara, pengukir Jepara, ratu kalinyamat, ukir, ukir jepara, ukir kayu, ukir kayu di jepara, ukir kayu jepara, zaman Raja Brawijaya | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

Jepara: Industri seni kerajinan ukir

Posted by amiruljepara on October 21, 2011

Pada dekade pertama abad ke 20, Kartini makin meningkatkan kepeduliannya kepada seni budaya tradisi. Hal itu sekaligus menyangkal interpretasi sumbang orang Eropa Barat atas sikap Kartini terhadap budaya warisan leluhurnya, karena ia menyatakan dengan tegas bahwa yang “lama itu juga pernah baru”. Ia menyadari bahwa kehidupan yang tengah dijalani berada dalam situasi transisi, yaitu suatu masa peralihan dari zaman lama ke zaman baru. Pernyataannya itu mencerminkan keteguhan hati terhadap warisan seni dan budaya masal lampau yang luhur dan adiluhung, meskipun ia juga memberi peluang hadirnya produk seni baru yang kreatif dan inovatif sesuai perkembangan. Salah satu tujuan utama perjuangan Kartini ialah meningkatkan kesejahteraan hidup perajin mebel ukir Jepara yang ketika itu masih sangat memprihatinkan.

Produk mebel yang dihasilkan antara lain berupa kursi dan bangku teras berukuran panjang, kursi pendek dan panjang yang dikombinasikan dengan rotan yang menyerupai kursi buatan bengkel seni Moris and Co, yang dibuat pada tahun 1893. Hal itu dapat dilihat pada alas duduk dan andaran kursi. Mereka juga membuat meja tamu berukuran besar berbentuk bulat dengan kaki-kaki yang bervariasi dan dengan daun meja dari marmer. Produk lainnya berupa kursi belajar, kursi dan meja makan, rak bunga, meja rias, alat mainan dhakon, kursi istimewa untuk samadi mesu brata, dan peti untuk menyimpan perhiasan. Peti yang dipesan oleh “Oost en West” menggunakan hiasan wayang yang sebelumnya dianggap tabu oleh perajin. Kreativitas itu terus menerus berkembang sehingga kelak lahir ukiran berupa relief yang mengambil tema pewayangan dari kisah Mahabarata dan Ramayana dalam bentuk relief sedang atau tinggi. Tema-tema yang diangkat antara lain Karna Tanding, Penjual Sate, karapan Sapi, Gerilya, dan sebagainya. Dengan demikian perjuangan Kartini telah meletakkan dasar-dasar kebangkitan kembali industri seni di Jepara, yang pada akhirnya kegiatan industri ini mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad ke-20.

Karya mebel buatan tahun 1910-1918 yang dipamerkan pada tahun 1926, dihiasi dengan ornament berupa motif makara, ular naga dan stilisasi tumbuh-tumbuhan, sebagian daripadanya dibuat dengan konstruksi mirip rakitan kereta kencana zaman Majapahit. Karya yang dipamerkan di Bandung tampaknya lebih bervariasi antara lain bruidsbed (krobongan), yaitu tempat tidur dari kayu untuk raja atau bangsawan, draagstoel (jempana) dengan ornament bentuk garuda dan naga, slintru bangsal kencana Sultan Yogyakarta, kaca rias, mimbar masjid keraton Demak, kursi kiai Kudus milik Gusti KR Timur Putera PB III, meja sirih yang dibuat oleh Wignjoprawiro pada tahun 1918 milik KP Hadiwidjojo, kelir wayang Kanjeng Kiai Kadung milik KP Hadiwidjojo buatan tahun 1910, penggantung pakaian, gayor gong, kotak sigaret, pigura foto, meja kecil milik KPH Hadiwidjojo. Karya-karya yang dibuat perajin mebel ukir Jepara umumnya menggunakan bahan dari kayu jati dan mahoni.

Pada tahun 1921, jenis produk seperti tersebut tidak hanya berkembang subur di Jepara, tetapi juga berkembang di Bali dan Madura. Di luar Jawa, tradisi membuat barang berukir juga lama berkembang, seperti di daerah Toba, Batak, Simalungun, Minangkabau, Toraja, Dayak, dan Asmat. Pada tahun itu diselenggarakan beberapa kali pameran, antara lain di Bandung pada tanggal 18-26 Juni 1921, dan Batavia, Moojen menyatakan, bahwa Een van de belangrijkste en toch nog weinig bekende vormen van jaavansche kunstnijverheid is het houtsnijwerk. Karya yang dipamerkan antara lain mimnbar kuno dari Masjid Demak, gebyok rumah kepala kampung sepanjang Madura, sedangkan karya dari pantai utara Jawa antara lain kotak, toilet, rak batik, congklak, pintu angin berukir tembus, peta arsip, standar lampu tunggal dan ganda berbentuk garuda-naga.

Pada tahun 1927, ketika diadakan pameran dalam rangka Bekrongen van de Inzendingen enz, voorde 1st Djokjasche Jaarmarkt- Tenoonstelling, Jepara diwakili oleh karya seni kerajinan kayu milik GA Tio. Karya yang dipamerkan berupa mebel ukir, standar gong dengan ornamen yang sangat rumit dan unik diukir dengan teknik krawangan tebus pandang. Pada bagian atas standar gong itu dihiasi motif burung merak dengan sayap dan ekornya sedang mengembang. Sisi samping kanan dan kiri dihiasi gambar berbentuk naga dengan posisi ekor menjulur ke atas yang mengampit pilar penyangga dan dikombinasikan dengan bentuk sulur-sulur. Beberapa kotak tempat perhiasan dan panel hiasan dinding turut dipamerkan. Diberitakan bahwa vertegenwoordigd door het bekende doorzenwerk van djati en sana hout. Di dalam paeran itu juga dipajang bothkan tempat jamu Jawa yang bersusun lima milik Kartini, bothekan Blora, bothekan madura, dan standar pusaka yang ditempel di dinding.

Pada tahun 1928, barang kerajinan mebel ukir sudah ada yang dihiasi dengan muzaik dari kayu yang beranek macam. Ny. De Graaf menyatakan: Het houtmozaik is een voor ons jonge kunst, die ongeveer 25 jaar geleden, op aanwijzing van Baron van Heerd, plaatselijk Militair Commandant van Solo en onder leiding van wijlen RT Wreksodinignrat, te Solo ingevoerd. Kayu yang digunakan untuk muzaik itu antara lain: Kayu sana (pterocarpus Indica), kayu mentahos (wrightia Javanica), kayu nangka (artocarpus integra), kayu sawo (aekras Zapota) dan kayu secang (Caesalpinia Sappen).

Pada dasawarsa keempat akhir abad ini, produksi mebel ukir Jepara dipasarkan oleh pedagang lokal kepaa masyarakat di kota-kota besar di Indonesia dalam bentuk setengah jadi. Kota besar itu antara lain, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung, Denpasar, Medan, dan Makasar. Bernard menyatakan bahwa produk mebel ukir yang dipasarkan sekitar tahun 1933 sudah sangat bervariasi.

Pada dekade ke 7 dan ke 8 abad XX, industri mebel ukir Jepara mengalami perkembangan pesat di antaranya karena didukung oleh PT Agung yang membuka usaha di Desa Tahunan dan berpengaruh besar bagi masyarakat perajin di sekitarnya. Di dalam praktek, perusahaan itu turut membangun budaya bangsa melalui pendayagunaan sen-seni tradisi untuk mengisi pembangunan nasional. Ketika itu motif hias yang diterapkan pada berbagai produk didominasi oleh gaya seni ukir Jawa. Usaha tersebut berhasil mengangkat perajin di sisi lain. Perusahaan PT Agung juga berhasil memicu keterampilan perajin karena untuk dapat bekerja di perusahaan itu harus melaui seleksi keterampilan yang sangat ketat.

Pada tahun 1970an, ibu negera tien suharto sudah menunjukkan peranannya yang sangat besar dalam memacu perkembangan industri mebel ukir Jepara. Upaya yang menonjol adalah memasukkan mebel ukir Jepara ke dalam interior Istana Negara dengan menyediakan ruang khusus yang disebut ruang Jepara. Dua pilar utama gaya Ionia yang dibungkus dengan ukiran Jepara berada di belakang Sang Saka Merah Putih sebagai penghubung menuju ruang utama. Interior Istana negara, termasuk Museum Puri Bakti Renatama yang peresmiannya dilaksanakan tanggal 28 Agustus 1971 bertepatan dengan kunjuungan Ratu Yuliana dari Kerajaan Belanda juga dilengkapi dengan produk industri mebel ukir Jepara. Gapura berukir Museum Puri Bakti Renatama itu dibuat oleh Gustami. Sudah tentu, semua perabot mebel ukir yang dipilih untuk mengisi ruang Istana Negara itu adalah produk unggulan dari Jepara, yaitu karya seni terpilih yang tanpa cacat. Perabot tersebut antara lain, meja sidang, meja dan kursi tamu, meja samping, meja sudut, slintru, tiang bendeara dhuaja, hiasan dinding, penutup pilar, dan lain sebagainya. Terpajangnya produk mebel ukir Jepara di Istana Negara, langsung atau tidak langsung merupakan media promosi yang sangat efektif dan efisien, sehingga berhasil mempopulerkan industri mebel ukir Jepara sampai ke luar negeri. Sesuai dengan fungsi dan bentuknya, mebel ukir karya perajin Jepara dimanfaatkan untuk memberikan kenikmatan, kenyamanan, keindahan tata ruang yang mendukung kelancaran kegiatan kenegaraan.

Pada tahun 1966, Presiden Soeharto membangun Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Di atas lubang sumur mati dibangun sebuah cungkup. Pembangunan itu melibatkan para desainer dan perajin intelektual yang berasal dari Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta (STSRI “ASRI”) yang dipandegani oleh seniman senior, Saptoto, sekolah yang kini telah menjadi Fakultas Seni Rupa (FSR), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tenaga terampil yang mewujudkan ukiran cungkup itu umumnya berasal dari Jepara.

Selain itu, pembangunanTaman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diprakarsai oleh Ibu Negara Tien Soeharto berdampak sangat luas terhadap pengembangan seni budaya bangsa. Keberhasilan pembangunan TMII tidak hanya pada tampilan fisiknya saja tetapi juga pengaruhnya dalam memicu pertumbuhan industri seni kerajinan di Indonesia. Sebagai Ibu Negara, Tien Soeharto, adalah figur yang gigih mempertahankan dan mengembangkan eksistensi seni tradiional Indonesia. Seni tradisional yang memiliki ciri khas daerah itu ditampilkan melalui anjungan masing-masing daerah di TMII sehingga eksistenisnya menjadi salah satu objek wisata yang menarik. Pada umumnya para pengunjung merasa kagum atas keindahan seni tiap-tiap daerah dengan ciri khas masing-masing, baik yang menyangkut seni bangunan, seni hias, busana, maupun berbagai macam perabot. Produk mebel ukir Jepara yang dipajang di Anjungan Jawa Tengah TMII antara lain meja, kursi, panel, slintru, barang sovenir, dan lain-lain Keunikan produk itu berkenaan dengan bahan kayu yang berkualitas unggulan dan teknik pembuatan yang berkualitas tinggi.

Berbagai prestasi berkenaan dengan perkembangan mebel ukir Jepara dipastikan berhubungan erat dengan keterpaduan langkah dan persepsi dari individu, kelompok, lembaga dan instansi. Salah satu di antaranya adlah kontribusi dan peranan Ibu Tien Soeharto dalam memicu, mendorong, membuka dan memberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan bidang industri mebel ukir. Peranan Ibu Negara Tien yang sangat besar itu kini masih terpateri dalam sanubari perajin Jepara. Ketika itu peran Tien Soeharto tidak hanya diakui oleh pejabat daerah Jepara tetapi juga oleh para pengusaha dan pengerajin. Tien Soeharto yang menaruh perhatian besar paa perkembangan seni-seni budaya tradisi itu layak disebut sebagai tokoh pemerhati, inspirator, inovator, dan penggerak. Usaha yang telah menunjukkan keberhasilan itu tetap dilanjutkan oleh pemerintah, terbukti pada tanggal 17 Februari 1997 ketika Presiden Soeharto memberikan kenang-kenangan kepada tamu Negara Raja Norodhom Shianouck dari Kamboja menggunakan ukir-ukiran dari Jepara. Peristiwa kenegaraan itu disiarkan langsung melalui Dunia Dalam Berita pada jam 21.00 WIB.

Pada akhir abad ke 20, industri seni kerajinan mebel ukir Jepara menarik perhatian pengusaha dari Eropa Barat, Asia dan Amerika untuk menanmkan modal di sektor industri itu. Mereka memiliki modal kuat dan daerah pemasaran yang luas. Umumnya mereka memahami selera konsumen sehingga dengan mudah dapat mengusahakan, memproduksi, dan memasarkan produknya ke negara pengguna. Kehadiran pengusaha itu juga telah menimbulkan permasalahan yang cukup pelik di kalangan pengusaha pribumi, karena dianggap merugikan pengusaha setempat sehingga sempat diadukan ke Posko 24 Jam di Semarang. Untuk mengatasi kesulitan itu, terdapat beberapa pengusaha asing yang mencari jalan keluar dengan cara meminjam nama penduduk setempat atau dengan cara kawin dengan penduduk pribumi. Dengan demikian mereka dapat membuka usaha industri mebel ukir atas nama orang yang dipinjam namanya atau atas nama istri kontraknya itu. Sudah abarang tentu cara yang ditempuh itu harus dibayar dengan biaya mahal.

Para pengusaha asing umumnya sangat percaya kepada kemampuan dan keterampilan perajin Jepara. Desain-desain itu umumnya disediakan sendiri oleh pengusaha asing karean mereka mengetahui secara tepat selera konsumen di daerah asalnya. Dengan demikian para pengusaha asing justru menguasai sebagian besar daerah pemasaran, sedangkan para perajin tetap pada kedudukannya sebagai pelaksana atau sebagai sub kontraktor. Relokasi usaha asing di Indonesia itu, jelas merupakan tantangan tersendiri yang perlu diantisipasi oelh pengusaha pribumi agar mereka dapat bersaing. Untuk menghadapi fenomena baru tersebut sudah barang tentu perlu strategi, antara lain meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengadakan penelitian pasar dan mempertajam ahli teknologi sehingga pengusaha dan perajin lokal mampu berkompetisi. Dewasa ini, dampak relokasi usaha asing di Jepara sudah terasa pad tingkat lokal dan nasional dengan terdegradasinya citra seni tradisi bangsa oleh tradisi seni budaya asing. Meskipun demikian, untuk sementara kehadiran pengusaha asing itu telah memacu perkembangan baru di sektor ekonomi masyarakat karena industri ini laku keras di pasar global.

Tampaknya di Jepara juga terdapat perajin yang memiliki idealisme tinggi dengan menciptkan produk kreasi baru baik yang berupa benda hias maupun perabot mebel ukir. Suhud pemilik Sanggar seni Ukir Sungging Adi Luwih cukup kreatif mengembangkan kepiting, buah anggur, kerang dan bentuk binatang lain sebagai dasar penciptaan mebel ukir. Usahanya itu mendapatkan sambutan positif dari konsumen sehingga karya yang dihasilkan dapat menjangkau pasar luar negeri, terutama ke Cina. Keunikan produksinya memantapkan kepribadian yang percaya diri sehingga dia merasa sebagai kriyawan utuh, yaitu tidak sekedar menjadi perajin pelaksana tetapi sebagai kreator dan pencipta mebel ukir kreasi baru. Dengan bangga ia menyatakan diri sebagai kriyawan yang kreatif. Ya dia memang kreatif dan tahu peluang pasar.

Kegiatan industry seni dan kerajinan mebel ukir telah berkembang menjadi arena persaingan antara pengusaha local dan asing, sekaligus merupakan wahan uji coba untuk menghadapi pasar terbuka. Berbagai tantangan yang mucul harus ditangkap oleh para pengusaha local sebagai peluang demi meningkatnya industry seni kerajinan mebel ukir itu. Peningkatan mutu bahan, proses, produksi, pemasaran, kemasan, distribusi dan layanan lainnya perlu diupayakan secara terprogram, terpadu dan kontinyu. Pada gilirannya akan membuktikan bahwa industry seni kerajinan mebel ukir Jepara tergolong seni-seni tradisional itu dapat bersaing dengan produk industry sejenis di forum internasional. Dengan demikian perajin dan produk industri seni kerajinan Jepara merupakan potensi yang telah teruji dalam persaingan global melaui penciptaan kreasi baru berbareng dengan relokasi industry seni kerajinan mebel ukir Eropa Barat.

Pada tahun-tahun terakhir abad ke 20, tingkat kebutuhan bahan kayu sudah sangat tinggi yaitu lebih dari 350 ton per bulan, dan lebih dari 450 kontainer mengangkut produksi industry seni kerajinan mebel ukir, rotan dan barang ekspor keluar kota Jepara. Barang tersebut diekspor melalui agen-agen penjualan atau broker asing yang berfungsi sebagai agen, distributor dan eksportir. Tidak kurang dari 43 pengusaha asing terjun dalam dunia ekspor impor di bidang industri ini. Daerah pemasarannya tersebar di lima benua yang mencakup sebanyak 29 negara.

Jumlah perusahaan yang tertera pada statistik daerah menunjukkan perkembangan yang mengesankan. Pada tahun 1991 baru terdapat 1.973 unit usaha, sedangkan tahun 1995 sudah mencapai 2.216 unit. Kenaikan ini diikuti naiknya investasi, jika pada tahun 1991 nilai investasi sebesar Rp. 1.311.980.000, maka pada tahun 1995 menjadi Rp. 2.578.000.000. Nilai produktivitas tahun 1995 mencapai Rp 275.168.200.000 lebih dengan kebutuhan bahan baku kayu mencapai 186.500 m3 lebih. Nilai bahan baku dalam bentuk rupiah tidak kurang dari Rp. 138.969.750.000.

Dalam rangka memperluas jaringan pasar produk industri seni kerajinan mebel ukir Jepara, juga dilaksanakan berbagai kegiatan paeran di dalam dan luar negeri. TIngginya frekuensi paeran dapat dilihat dari berbagai katalogus yang terbit, seperti katalogus International Annual Fair of Flanders, bulan Agustus 1995 di Gent, Belgia, Paeran Asean Trade Fair tanggal 21-25 September 1995 di Osaka Jepang, pameran Seoul International Fair tanggal 26 September sampai 2 Oktober 1995 dan paeran International Furniture Fair pada bulan September tahun 1995 di Valensia, Spanyol. Tokyo Fair tanggal 22-25 November 1995 di Harumutu Bldg, Jepang; dan pameran International Autum Trade Fair di Dubai, U.A.E. Paeran-paeran didalam negeri antara lain Pameran Produk Indonesia tanggal 12-27 Agustus 1995 dan Furniture 95 tanggal 8-17 Desember 1995 di JITC Kemayoran Jakarta; Jakarta International Furniture tanggal 18-26 November 1995 di Hilton Convention Center Jakarta.

Pada tahun 1996, paeran yang diselenggarakan di dalam negeri antara lain, Central Java Furniture 96’ Pekan Mebel dan Kerajinan Indonesia’ Pameran Produk Ekspor ke 11 dan Islamic Trade Fair. Adapun pameran di luar negeri untuk tahun 1996 antara lain; ke Seoul, Korea bulan Maret; ke Jepang bulan September, ke Copenhagen Denmark bulan Oktober. Kunjungan itu menjadi sangat berarti karena diikuti oleh para pengusaha untuk menjalin jaringan pemasaran.

Selain paeran juga diadakan kontak dagang dengan berbagai pengusaha asing, antara lain Etsel Trade Ltd, Claseley House, Shore Road Skelworlei, Ayrshire, Scodland, PA. 17 SER untuk komoditas Rattan Furniture dan Woodfurniture; Scandecor, 3The Ermine Center, Hurricane Close, Huttingdon, Cams PE 18 6XX untuk komoditas furniture ; dengan Not Cutts (Jane Hunt), Woodhridge, Sulfaolk. IP 124AF. London untuk komoditas Garden Furniture; dengan Anglocentrop Ltd, Northway House, 1379 High Road, London untuk komoditas Garden Furniture and Garden Umbrella; dengan Mayfair ST James Ltd, Walson, Pool, Redruth, Cornwall untuk komoditas Mahogany Furniture; dengan Druimuan House, Killecranlie, by pitloshary Perthsire PH 16 SLG untuk komodiats Reproduction Furnture dan dengan Thisle Binby, Spectator Street, Manchester M$&HS untuk komoditas Wooden and Rattan Furniture. Perluasan jaringan dan kontak dagang internasional tersebut sudah tentu memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang luas, sehingga perajin pengusaha dituntut memiliki latar belakang pendidikan yang memadai sesuai kemajuan zaman.

Oleh: SP Gustami

Posted in alat mainan dhakon, ameran Produk Indonesia, asmat, bangku teras, bothekan Blora, bothekan madura, Gapura berukir Museum Puri Bakti Renatama, Garden Furniture, Garden Umbrella, gebyok rumah kepala kampung sepanjang Madura, Industri Mebel Ukir Jepara, Industri perabot ukiran kayu, industri seni di Jepara, industri ukir, International Annual Fair of Flanders, International Furniture Fair, kaca rias, kartini, kayu, kayu jati, kayu mahony, kelir wayang Kanjeng Kiai Kadung milik KP Hadiwidjojo, kursi, kursi belajar, kursi buatan bengkel seni Moris, kursi kiai Kudus milik Gusti KR Timur Putera PB III, kursi pendek, kursi tamu, meja rias, mempopulerkan industri mebel ukir, mimbar masjid keraton Demak, mimnbar kuno dari Masjid Demak, ornament bentuk garuda, ornament berupa motif makara, ornament naga, pengrajin, pengrajin jepara, pengrajin ukir, penutup pilar, pintu angin berukir tembus, produk jepara, produk mebel, produk seni, produk ukir, produksi mebel ukir Jepara, rak bunga, sanubari perajin Jepara, sikap Kartini, slintru bangsal kencana Sultan Yogyakarta, stilisasi tumbuh-tumbuhan, ular naga, zaman Majapahit | Tagged: , , , , , , , | 1 Comment »