Jasa Ukir Online – Jasa Ukiran Khas Jepara

kami menerima jasa pengukiran majapahit kuno, mataram, modern eropa dan ukiran khas jepara lainnya serta jasa design ukiran

Archive for the ‘produk seni’ Category

budaya ukiran jepara mengakar

Posted by amiruljepara on May 31, 2013

relief jepara

relief jepara

Relief jepara telah menjadi sebuah budaya yang mengakar di jepara. seni relief ukir 3 dimensi telah menjadi suatu produk mebel & furniture unggulan jepara dan telah menjadi produk komoditi penjualan pasar domestik yang potensial bagi penyuka barang seni. bisa dikatakan produk barang seni karena relief biasanya diukir dengan media kayu glondong dengan ketebalan 10cm bahkan lebih ada juga yang memesan dengan ketebalan 25cm. tentu bisa kita bayangkan dengan kayu setebal itu bagaimana cara mengukirnya dan membentuk model 3 dimensi nyata. dengan tingkat kesulitan yang luar biasa menjadikan relief ukir jepara menjadi produk seni unggulan. dalam menyelesaikan 1 buah relief berukuran 1mx2m rata-rata membutuhkan waktu 6 bulan-8bulan tergantung ketebalan kayu ini yang membuat rata-rata relief jepara adalah barang stok, dibuat sebelum dipesan. walaupun demikian relief jepara tetap dimininati pembeli karena relief buatan jepara tidak hanya sekedar   barang produk kayu jadi. dalam setiap relief mengandung cerita tersendiri biasanya cerita relief kebanyakan diangkat dari cerita pewayangan misal cerita relief ramayana, cerita relief karno tanding, cerita relief jaka tarup, dll. relief jepara ingin mengangkat budaya Indonesia melalui media seni pahat ukir 3 dimensi. sebagai anak bangsa kita wajib melestarikan kebudayaan Indonesia guna menunjang nama Indonesia agar harum di mancanegara. dan tidak ada lagi akuisisi atas budaya kita di negara-negara lain.

Posted in jepara, jepara kota ukir, produk mebel ukir Jepara, produk seni, produk ukir, produk ukir jepara, produk ukir unggulan jepara, produk ukiran, produksi mebel ukir Jepara, relief ukir jepara, ukiran jepara, ukiran kayu, Ukiran Relief 3 Dimensi Unik Khas Jepara, Ukiran relief Jepara, Uncategorized | Leave a Comment »

Jepara: Industri seni kerajinan ukir

Posted by amiruljepara on October 21, 2011

Pada dekade pertama abad ke 20, Kartini makin meningkatkan kepeduliannya kepada seni budaya tradisi. Hal itu sekaligus menyangkal interpretasi sumbang orang Eropa Barat atas sikap Kartini terhadap budaya warisan leluhurnya, karena ia menyatakan dengan tegas bahwa yang “lama itu juga pernah baru”. Ia menyadari bahwa kehidupan yang tengah dijalani berada dalam situasi transisi, yaitu suatu masa peralihan dari zaman lama ke zaman baru. Pernyataannya itu mencerminkan keteguhan hati terhadap warisan seni dan budaya masal lampau yang luhur dan adiluhung, meskipun ia juga memberi peluang hadirnya produk seni baru yang kreatif dan inovatif sesuai perkembangan. Salah satu tujuan utama perjuangan Kartini ialah meningkatkan kesejahteraan hidup perajin mebel ukir Jepara yang ketika itu masih sangat memprihatinkan.

Produk mebel yang dihasilkan antara lain berupa kursi dan bangku teras berukuran panjang, kursi pendek dan panjang yang dikombinasikan dengan rotan yang menyerupai kursi buatan bengkel seni Moris and Co, yang dibuat pada tahun 1893. Hal itu dapat dilihat pada alas duduk dan andaran kursi. Mereka juga membuat meja tamu berukuran besar berbentuk bulat dengan kaki-kaki yang bervariasi dan dengan daun meja dari marmer. Produk lainnya berupa kursi belajar, kursi dan meja makan, rak bunga, meja rias, alat mainan dhakon, kursi istimewa untuk samadi mesu brata, dan peti untuk menyimpan perhiasan. Peti yang dipesan oleh “Oost en West” menggunakan hiasan wayang yang sebelumnya dianggap tabu oleh perajin. Kreativitas itu terus menerus berkembang sehingga kelak lahir ukiran berupa relief yang mengambil tema pewayangan dari kisah Mahabarata dan Ramayana dalam bentuk relief sedang atau tinggi. Tema-tema yang diangkat antara lain Karna Tanding, Penjual Sate, karapan Sapi, Gerilya, dan sebagainya. Dengan demikian perjuangan Kartini telah meletakkan dasar-dasar kebangkitan kembali industri seni di Jepara, yang pada akhirnya kegiatan industri ini mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad ke-20.

Karya mebel buatan tahun 1910-1918 yang dipamerkan pada tahun 1926, dihiasi dengan ornament berupa motif makara, ular naga dan stilisasi tumbuh-tumbuhan, sebagian daripadanya dibuat dengan konstruksi mirip rakitan kereta kencana zaman Majapahit. Karya yang dipamerkan di Bandung tampaknya lebih bervariasi antara lain bruidsbed (krobongan), yaitu tempat tidur dari kayu untuk raja atau bangsawan, draagstoel (jempana) dengan ornament bentuk garuda dan naga, slintru bangsal kencana Sultan Yogyakarta, kaca rias, mimbar masjid keraton Demak, kursi kiai Kudus milik Gusti KR Timur Putera PB III, meja sirih yang dibuat oleh Wignjoprawiro pada tahun 1918 milik KP Hadiwidjojo, kelir wayang Kanjeng Kiai Kadung milik KP Hadiwidjojo buatan tahun 1910, penggantung pakaian, gayor gong, kotak sigaret, pigura foto, meja kecil milik KPH Hadiwidjojo. Karya-karya yang dibuat perajin mebel ukir Jepara umumnya menggunakan bahan dari kayu jati dan mahoni.

Pada tahun 1921, jenis produk seperti tersebut tidak hanya berkembang subur di Jepara, tetapi juga berkembang di Bali dan Madura. Di luar Jawa, tradisi membuat barang berukir juga lama berkembang, seperti di daerah Toba, Batak, Simalungun, Minangkabau, Toraja, Dayak, dan Asmat. Pada tahun itu diselenggarakan beberapa kali pameran, antara lain di Bandung pada tanggal 18-26 Juni 1921, dan Batavia, Moojen menyatakan, bahwa Een van de belangrijkste en toch nog weinig bekende vormen van jaavansche kunstnijverheid is het houtsnijwerk. Karya yang dipamerkan antara lain mimnbar kuno dari Masjid Demak, gebyok rumah kepala kampung sepanjang Madura, sedangkan karya dari pantai utara Jawa antara lain kotak, toilet, rak batik, congklak, pintu angin berukir tembus, peta arsip, standar lampu tunggal dan ganda berbentuk garuda-naga.

Pada tahun 1927, ketika diadakan pameran dalam rangka Bekrongen van de Inzendingen enz, voorde 1st Djokjasche Jaarmarkt- Tenoonstelling, Jepara diwakili oleh karya seni kerajinan kayu milik GA Tio. Karya yang dipamerkan berupa mebel ukir, standar gong dengan ornamen yang sangat rumit dan unik diukir dengan teknik krawangan tebus pandang. Pada bagian atas standar gong itu dihiasi motif burung merak dengan sayap dan ekornya sedang mengembang. Sisi samping kanan dan kiri dihiasi gambar berbentuk naga dengan posisi ekor menjulur ke atas yang mengampit pilar penyangga dan dikombinasikan dengan bentuk sulur-sulur. Beberapa kotak tempat perhiasan dan panel hiasan dinding turut dipamerkan. Diberitakan bahwa vertegenwoordigd door het bekende doorzenwerk van djati en sana hout. Di dalam paeran itu juga dipajang bothkan tempat jamu Jawa yang bersusun lima milik Kartini, bothekan Blora, bothekan madura, dan standar pusaka yang ditempel di dinding.

Pada tahun 1928, barang kerajinan mebel ukir sudah ada yang dihiasi dengan muzaik dari kayu yang beranek macam. Ny. De Graaf menyatakan: Het houtmozaik is een voor ons jonge kunst, die ongeveer 25 jaar geleden, op aanwijzing van Baron van Heerd, plaatselijk Militair Commandant van Solo en onder leiding van wijlen RT Wreksodinignrat, te Solo ingevoerd. Kayu yang digunakan untuk muzaik itu antara lain: Kayu sana (pterocarpus Indica), kayu mentahos (wrightia Javanica), kayu nangka (artocarpus integra), kayu sawo (aekras Zapota) dan kayu secang (Caesalpinia Sappen).

Pada dasawarsa keempat akhir abad ini, produksi mebel ukir Jepara dipasarkan oleh pedagang lokal kepaa masyarakat di kota-kota besar di Indonesia dalam bentuk setengah jadi. Kota besar itu antara lain, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung, Denpasar, Medan, dan Makasar. Bernard menyatakan bahwa produk mebel ukir yang dipasarkan sekitar tahun 1933 sudah sangat bervariasi.

Pada dekade ke 7 dan ke 8 abad XX, industri mebel ukir Jepara mengalami perkembangan pesat di antaranya karena didukung oleh PT Agung yang membuka usaha di Desa Tahunan dan berpengaruh besar bagi masyarakat perajin di sekitarnya. Di dalam praktek, perusahaan itu turut membangun budaya bangsa melalui pendayagunaan sen-seni tradisi untuk mengisi pembangunan nasional. Ketika itu motif hias yang diterapkan pada berbagai produk didominasi oleh gaya seni ukir Jawa. Usaha tersebut berhasil mengangkat perajin di sisi lain. Perusahaan PT Agung juga berhasil memicu keterampilan perajin karena untuk dapat bekerja di perusahaan itu harus melaui seleksi keterampilan yang sangat ketat.

Pada tahun 1970an, ibu negera tien suharto sudah menunjukkan peranannya yang sangat besar dalam memacu perkembangan industri mebel ukir Jepara. Upaya yang menonjol adalah memasukkan mebel ukir Jepara ke dalam interior Istana Negara dengan menyediakan ruang khusus yang disebut ruang Jepara. Dua pilar utama gaya Ionia yang dibungkus dengan ukiran Jepara berada di belakang Sang Saka Merah Putih sebagai penghubung menuju ruang utama. Interior Istana negara, termasuk Museum Puri Bakti Renatama yang peresmiannya dilaksanakan tanggal 28 Agustus 1971 bertepatan dengan kunjuungan Ratu Yuliana dari Kerajaan Belanda juga dilengkapi dengan produk industri mebel ukir Jepara. Gapura berukir Museum Puri Bakti Renatama itu dibuat oleh Gustami. Sudah tentu, semua perabot mebel ukir yang dipilih untuk mengisi ruang Istana Negara itu adalah produk unggulan dari Jepara, yaitu karya seni terpilih yang tanpa cacat. Perabot tersebut antara lain, meja sidang, meja dan kursi tamu, meja samping, meja sudut, slintru, tiang bendeara dhuaja, hiasan dinding, penutup pilar, dan lain sebagainya. Terpajangnya produk mebel ukir Jepara di Istana Negara, langsung atau tidak langsung merupakan media promosi yang sangat efektif dan efisien, sehingga berhasil mempopulerkan industri mebel ukir Jepara sampai ke luar negeri. Sesuai dengan fungsi dan bentuknya, mebel ukir karya perajin Jepara dimanfaatkan untuk memberikan kenikmatan, kenyamanan, keindahan tata ruang yang mendukung kelancaran kegiatan kenegaraan.

Pada tahun 1966, Presiden Soeharto membangun Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Di atas lubang sumur mati dibangun sebuah cungkup. Pembangunan itu melibatkan para desainer dan perajin intelektual yang berasal dari Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta (STSRI “ASRI”) yang dipandegani oleh seniman senior, Saptoto, sekolah yang kini telah menjadi Fakultas Seni Rupa (FSR), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tenaga terampil yang mewujudkan ukiran cungkup itu umumnya berasal dari Jepara.

Selain itu, pembangunanTaman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diprakarsai oleh Ibu Negara Tien Soeharto berdampak sangat luas terhadap pengembangan seni budaya bangsa. Keberhasilan pembangunan TMII tidak hanya pada tampilan fisiknya saja tetapi juga pengaruhnya dalam memicu pertumbuhan industri seni kerajinan di Indonesia. Sebagai Ibu Negara, Tien Soeharto, adalah figur yang gigih mempertahankan dan mengembangkan eksistensi seni tradiional Indonesia. Seni tradisional yang memiliki ciri khas daerah itu ditampilkan melalui anjungan masing-masing daerah di TMII sehingga eksistenisnya menjadi salah satu objek wisata yang menarik. Pada umumnya para pengunjung merasa kagum atas keindahan seni tiap-tiap daerah dengan ciri khas masing-masing, baik yang menyangkut seni bangunan, seni hias, busana, maupun berbagai macam perabot. Produk mebel ukir Jepara yang dipajang di Anjungan Jawa Tengah TMII antara lain meja, kursi, panel, slintru, barang sovenir, dan lain-lain Keunikan produk itu berkenaan dengan bahan kayu yang berkualitas unggulan dan teknik pembuatan yang berkualitas tinggi.

Berbagai prestasi berkenaan dengan perkembangan mebel ukir Jepara dipastikan berhubungan erat dengan keterpaduan langkah dan persepsi dari individu, kelompok, lembaga dan instansi. Salah satu di antaranya adlah kontribusi dan peranan Ibu Tien Soeharto dalam memicu, mendorong, membuka dan memberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan bidang industri mebel ukir. Peranan Ibu Negara Tien yang sangat besar itu kini masih terpateri dalam sanubari perajin Jepara. Ketika itu peran Tien Soeharto tidak hanya diakui oleh pejabat daerah Jepara tetapi juga oleh para pengusaha dan pengerajin. Tien Soeharto yang menaruh perhatian besar paa perkembangan seni-seni budaya tradisi itu layak disebut sebagai tokoh pemerhati, inspirator, inovator, dan penggerak. Usaha yang telah menunjukkan keberhasilan itu tetap dilanjutkan oleh pemerintah, terbukti pada tanggal 17 Februari 1997 ketika Presiden Soeharto memberikan kenang-kenangan kepada tamu Negara Raja Norodhom Shianouck dari Kamboja menggunakan ukir-ukiran dari Jepara. Peristiwa kenegaraan itu disiarkan langsung melalui Dunia Dalam Berita pada jam 21.00 WIB.

Pada akhir abad ke 20, industri seni kerajinan mebel ukir Jepara menarik perhatian pengusaha dari Eropa Barat, Asia dan Amerika untuk menanmkan modal di sektor industri itu. Mereka memiliki modal kuat dan daerah pemasaran yang luas. Umumnya mereka memahami selera konsumen sehingga dengan mudah dapat mengusahakan, memproduksi, dan memasarkan produknya ke negara pengguna. Kehadiran pengusaha itu juga telah menimbulkan permasalahan yang cukup pelik di kalangan pengusaha pribumi, karena dianggap merugikan pengusaha setempat sehingga sempat diadukan ke Posko 24 Jam di Semarang. Untuk mengatasi kesulitan itu, terdapat beberapa pengusaha asing yang mencari jalan keluar dengan cara meminjam nama penduduk setempat atau dengan cara kawin dengan penduduk pribumi. Dengan demikian mereka dapat membuka usaha industri mebel ukir atas nama orang yang dipinjam namanya atau atas nama istri kontraknya itu. Sudah abarang tentu cara yang ditempuh itu harus dibayar dengan biaya mahal.

Para pengusaha asing umumnya sangat percaya kepada kemampuan dan keterampilan perajin Jepara. Desain-desain itu umumnya disediakan sendiri oleh pengusaha asing karean mereka mengetahui secara tepat selera konsumen di daerah asalnya. Dengan demikian para pengusaha asing justru menguasai sebagian besar daerah pemasaran, sedangkan para perajin tetap pada kedudukannya sebagai pelaksana atau sebagai sub kontraktor. Relokasi usaha asing di Indonesia itu, jelas merupakan tantangan tersendiri yang perlu diantisipasi oelh pengusaha pribumi agar mereka dapat bersaing. Untuk menghadapi fenomena baru tersebut sudah barang tentu perlu strategi, antara lain meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengadakan penelitian pasar dan mempertajam ahli teknologi sehingga pengusaha dan perajin lokal mampu berkompetisi. Dewasa ini, dampak relokasi usaha asing di Jepara sudah terasa pad tingkat lokal dan nasional dengan terdegradasinya citra seni tradisi bangsa oleh tradisi seni budaya asing. Meskipun demikian, untuk sementara kehadiran pengusaha asing itu telah memacu perkembangan baru di sektor ekonomi masyarakat karena industri ini laku keras di pasar global.

Tampaknya di Jepara juga terdapat perajin yang memiliki idealisme tinggi dengan menciptkan produk kreasi baru baik yang berupa benda hias maupun perabot mebel ukir. Suhud pemilik Sanggar seni Ukir Sungging Adi Luwih cukup kreatif mengembangkan kepiting, buah anggur, kerang dan bentuk binatang lain sebagai dasar penciptaan mebel ukir. Usahanya itu mendapatkan sambutan positif dari konsumen sehingga karya yang dihasilkan dapat menjangkau pasar luar negeri, terutama ke Cina. Keunikan produksinya memantapkan kepribadian yang percaya diri sehingga dia merasa sebagai kriyawan utuh, yaitu tidak sekedar menjadi perajin pelaksana tetapi sebagai kreator dan pencipta mebel ukir kreasi baru. Dengan bangga ia menyatakan diri sebagai kriyawan yang kreatif. Ya dia memang kreatif dan tahu peluang pasar.

Kegiatan industry seni dan kerajinan mebel ukir telah berkembang menjadi arena persaingan antara pengusaha local dan asing, sekaligus merupakan wahan uji coba untuk menghadapi pasar terbuka. Berbagai tantangan yang mucul harus ditangkap oleh para pengusaha local sebagai peluang demi meningkatnya industry seni kerajinan mebel ukir itu. Peningkatan mutu bahan, proses, produksi, pemasaran, kemasan, distribusi dan layanan lainnya perlu diupayakan secara terprogram, terpadu dan kontinyu. Pada gilirannya akan membuktikan bahwa industry seni kerajinan mebel ukir Jepara tergolong seni-seni tradisional itu dapat bersaing dengan produk industry sejenis di forum internasional. Dengan demikian perajin dan produk industri seni kerajinan Jepara merupakan potensi yang telah teruji dalam persaingan global melaui penciptaan kreasi baru berbareng dengan relokasi industry seni kerajinan mebel ukir Eropa Barat.

Pada tahun-tahun terakhir abad ke 20, tingkat kebutuhan bahan kayu sudah sangat tinggi yaitu lebih dari 350 ton per bulan, dan lebih dari 450 kontainer mengangkut produksi industry seni kerajinan mebel ukir, rotan dan barang ekspor keluar kota Jepara. Barang tersebut diekspor melalui agen-agen penjualan atau broker asing yang berfungsi sebagai agen, distributor dan eksportir. Tidak kurang dari 43 pengusaha asing terjun dalam dunia ekspor impor di bidang industri ini. Daerah pemasarannya tersebar di lima benua yang mencakup sebanyak 29 negara.

Jumlah perusahaan yang tertera pada statistik daerah menunjukkan perkembangan yang mengesankan. Pada tahun 1991 baru terdapat 1.973 unit usaha, sedangkan tahun 1995 sudah mencapai 2.216 unit. Kenaikan ini diikuti naiknya investasi, jika pada tahun 1991 nilai investasi sebesar Rp. 1.311.980.000, maka pada tahun 1995 menjadi Rp. 2.578.000.000. Nilai produktivitas tahun 1995 mencapai Rp 275.168.200.000 lebih dengan kebutuhan bahan baku kayu mencapai 186.500 m3 lebih. Nilai bahan baku dalam bentuk rupiah tidak kurang dari Rp. 138.969.750.000.

Dalam rangka memperluas jaringan pasar produk industri seni kerajinan mebel ukir Jepara, juga dilaksanakan berbagai kegiatan paeran di dalam dan luar negeri. TIngginya frekuensi paeran dapat dilihat dari berbagai katalogus yang terbit, seperti katalogus International Annual Fair of Flanders, bulan Agustus 1995 di Gent, Belgia, Paeran Asean Trade Fair tanggal 21-25 September 1995 di Osaka Jepang, pameran Seoul International Fair tanggal 26 September sampai 2 Oktober 1995 dan paeran International Furniture Fair pada bulan September tahun 1995 di Valensia, Spanyol. Tokyo Fair tanggal 22-25 November 1995 di Harumutu Bldg, Jepang; dan pameran International Autum Trade Fair di Dubai, U.A.E. Paeran-paeran didalam negeri antara lain Pameran Produk Indonesia tanggal 12-27 Agustus 1995 dan Furniture 95 tanggal 8-17 Desember 1995 di JITC Kemayoran Jakarta; Jakarta International Furniture tanggal 18-26 November 1995 di Hilton Convention Center Jakarta.

Pada tahun 1996, paeran yang diselenggarakan di dalam negeri antara lain, Central Java Furniture 96’ Pekan Mebel dan Kerajinan Indonesia’ Pameran Produk Ekspor ke 11 dan Islamic Trade Fair. Adapun pameran di luar negeri untuk tahun 1996 antara lain; ke Seoul, Korea bulan Maret; ke Jepang bulan September, ke Copenhagen Denmark bulan Oktober. Kunjungan itu menjadi sangat berarti karena diikuti oleh para pengusaha untuk menjalin jaringan pemasaran.

Selain paeran juga diadakan kontak dagang dengan berbagai pengusaha asing, antara lain Etsel Trade Ltd, Claseley House, Shore Road Skelworlei, Ayrshire, Scodland, PA. 17 SER untuk komoditas Rattan Furniture dan Woodfurniture; Scandecor, 3The Ermine Center, Hurricane Close, Huttingdon, Cams PE 18 6XX untuk komoditas furniture ; dengan Not Cutts (Jane Hunt), Woodhridge, Sulfaolk. IP 124AF. London untuk komoditas Garden Furniture; dengan Anglocentrop Ltd, Northway House, 1379 High Road, London untuk komoditas Garden Furniture and Garden Umbrella; dengan Mayfair ST James Ltd, Walson, Pool, Redruth, Cornwall untuk komoditas Mahogany Furniture; dengan Druimuan House, Killecranlie, by pitloshary Perthsire PH 16 SLG untuk komodiats Reproduction Furnture dan dengan Thisle Binby, Spectator Street, Manchester M$&HS untuk komoditas Wooden and Rattan Furniture. Perluasan jaringan dan kontak dagang internasional tersebut sudah tentu memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang luas, sehingga perajin pengusaha dituntut memiliki latar belakang pendidikan yang memadai sesuai kemajuan zaman.

Oleh: SP Gustami

Posted in alat mainan dhakon, ameran Produk Indonesia, asmat, bangku teras, bothekan Blora, bothekan madura, Gapura berukir Museum Puri Bakti Renatama, Garden Furniture, Garden Umbrella, gebyok rumah kepala kampung sepanjang Madura, Industri Mebel Ukir Jepara, Industri perabot ukiran kayu, industri seni di Jepara, industri ukir, International Annual Fair of Flanders, International Furniture Fair, kaca rias, kartini, kayu, kayu jati, kayu mahony, kelir wayang Kanjeng Kiai Kadung milik KP Hadiwidjojo, kursi, kursi belajar, kursi buatan bengkel seni Moris, kursi kiai Kudus milik Gusti KR Timur Putera PB III, kursi pendek, kursi tamu, meja rias, mempopulerkan industri mebel ukir, mimbar masjid keraton Demak, mimnbar kuno dari Masjid Demak, ornament bentuk garuda, ornament berupa motif makara, ornament naga, pengrajin, pengrajin jepara, pengrajin ukir, penutup pilar, pintu angin berukir tembus, produk jepara, produk mebel, produk seni, produk ukir, produksi mebel ukir Jepara, rak bunga, sanubari perajin Jepara, sikap Kartini, slintru bangsal kencana Sultan Yogyakarta, stilisasi tumbuh-tumbuhan, ular naga, zaman Majapahit | Tagged: , , , , , , , | 1 Comment »