Jasa Ukir Online – Jasa Ukiran Khas Jepara

kami menerima jasa pengukiran majapahit kuno, mataram, modern eropa dan ukiran khas jepara lainnya serta jasa design ukiran

Archive for the ‘motif-motif’ Category

Mengenal Potensi Masyarakat Jepara Sebagai Kota Ukir

Posted by amiruljepara on October 24, 2011

jasa ukir jepara

jasa ukir jepara

Satu citra yang telah begitu melekat dengan Jepara adalah predikatnya sebagai “Kota Ukir”. Ukir kayu telah menjadi idiom kota kelahiran Raden Ajeng Kartini ini, dan bahkan belum ada kota lain yang layak disebut sepadan dengan Jepara untuk industri kerajinan meubel ukir. Namun untuk sampia pada kondisi seperti ini, Jepara telah menapak perjalana yang sangat panjang. Sejak jaman kejayaan Negara-negara Hindu di Jawa Tengah, Jepara Telah dikenal sebagai pelabuhan utara pantai Jawa yang juga berfungsi pintu gerbang komunikasi antara kerajaan Jawa denga Cina dan India .

Demikian juga pada saat kerajan Islam pertama di Demak, Jepara telah dijadikan sebagai pelabuhan Utara disamping sebagai pusat perdagangan dan pangkalan armada perang. Dalam masa penyebaran agama Islam oleh para Wali, Jepara juga dijadikan daerah “ pengabdian” Sunan Kalijaga yang mengembangkan berbagai macam seni termasuk seni ukir.

Factor lain yang melatar belakangi perkembangan ukir kayu di Jepara adalah para pendatang dari negeri Cina yang kemudian menetap. Dalam catatan sejarah perkembangan ukir kayu juga tak dapat dilepaskan dari peranan Ratu Kalinyamat . Pada masa pemerintahannya ia memiliki seorang patih yang bernama “Sungging Badarduwung” yang berasal dari Negeri Campa Patih ini ternyata seorang ahli pahat yang dengan sukarela mengajarkan keterampilannya kepada masyarakat disekitarnya Satu bukti yang masih dapat dilihat dari seni ukir masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah adanya ornament ukir batu di Masjid Mantingan.

Disamping itu , peranan Raden Ajeng Kartini dalam pengembangkan seni ukir juga sangat besar. Raden Ajeng Kartini yang melihat kehidupan para pengrajin tak juga beranjak dari kemiskinan, batinnya terusik, sehingga ia bertekat mengangkat derajat para pengrajin. Ia memanggil beberapa pengrajin dari Belakang Gunung (kini salah satu padukuhan Desa mulyoharjo) di bawah pimpinan Singowiryo, untuk bersama-sama membuat ukiran di belakang Kabupaten. Oleh Raden Ajeng Kartini, mereka diminta untuk membuat berbagai macam jenis ukiran, seperti peti jahitan, meja keci, pigura, tempat rokok, tempat perhiasan, dan lain-lain barang souvenir. Barang-barang ini kemudian di jual Raden Ajeng Kartini ke Semarang dan Batavia (sekarang Jakarta ), sehingga akhirnya diketahui bahwa masyarakat Jepara pandai mengukir.
Setelah banyak pesanan yang datang, hasil produksi para pengrajin Jepara bertambah jenis kursi pengantin, alat panahan angin, tempat tidur pengantin dan penyekat ruangan serta berbagai jenis kursi tamu dan kursi makan. Raden Ajeng Kartini juga mulai memperkenalkan seni ukir Jepara keluar negeri. Caranya, Raden Ajeng kartini memberikan souvenir kepada sahabatnya di luar negeri. Akibatnya ukir terus berkembang dan pesanan terus berdatangan. Seluruh penjualan barang, setelah dikurangi dengan biaya produksi dan ongkos kirim, uangnya diserahkan secara utuh kepada para pengrajin.

Untuk menunjang perkembangan ukir Jepara yang telah dirintis oleh Raden Ajeng Kartini, pada tahun 1929 timbul gagasan dari beberapa orang pribumi untuk mendirikan sekolah kejuruan. Tepat pada tanggal 1 Juli 1929, sekolah pertukangan dengan jurusan meubel dan ukir dibuka dengan nama “Openbare Ambachtsschool” yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Teknik Negeri dan Kemudian menjadi Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri.

Dengan adanya sekolah kejuruan ini, kerajinan meubul dan ukiran semaluas di masyarakat dan makin banyak pula anak–anak yang masuk sekolah ini agar mendapatkan kecakapan di bidang meubel dan meubel dan ukir. Di dalam sekolah ini agar diajarkan berbagai macam desain motif ukir serta ragam hias Indonesia yang pada mulanya belum diketahui oleh masyarakat Jepara . Tokoh-tokoh yang berjasa di dalam pengembangan motif lewat lembaga pendidikan ini adalah Raden Ngabehi Projo Sukemi yang mengembangkan motif majapahit dan Pajajaran serta Raden Ngabehi Wignjopangukir mengembangkan motif Pajajaran dan Bali.
Semakin bertambahnya motif ukir yang dikuasai oleh para pengrajin Jepara , meubel dan ukiran Jepara semakin diminati. Para pedagang pun mulai memanfaatkan kesempatan ini, untuk mendapatkan barang-barang baru guna memenuhi permintaan konsumen, baik yang berada di dalam di luar negeri.Kemampuan masyarakat Jepara di bidang ukir kayu juga diwarnai dengan legenda . Dikisahkan, pada jaman dahulu ada seorang seniman bernama Ki Sungging Adi Luwih yang tinggal di suatu kerajaan. Ketenaran seniman ini didengar oleh sang raja yang kemudian memesan gambar permaisuri. Singkat cerita, KiSungging berhasil menyelesaikan pesanan dengan baik. Namun ketika ia akan menambahkan warna hitam pada rambut, terpeciklah tinta hitam dibagian pangkal paha gambar sang permaisuri sehingga nampak seperti tahi lalat. Gambar ini kemudian diserahkan kepada raja yang sangat kagum terhadap hasil karya Ki Sungging.

Namun raja juga curiga karena ia melihat ada tahi lalat dipangkal paha. Raja menduga Ki Sungging talah melihat permaisuri telanjang. Oleh karena itu raja berniat menghukum Ki Sungging dengan membuat patung di udara dengan naik layang-layang. Pada waktu yang telah ditentukan ki Sungging naik layang-layang dengan membawa pelengkapan pahat untuk membuat patung permaisuri.
Namun karena angina bertiup sangat kencang, patung setengah jadi itu akhirnya terbawa angin dan jatuh di pulau Bali. Benda ini akhirnya ditemukan oleh masyarakat Bali, sehingga masyarakat setempat sekarang dikenal sebagai ahli membuat patung. Sedangkan peralatan memahat jatuh di belakang gunung dan konon dari kawasan inilah ukir Jepara mulai berkembang.
Terlepas dari cerita legenda maupun sejarahnya, seni ukir Jepara kini telah dapat berkembang dan bahkan merupakan salah satu bagian dari “nafas kehidupan dan denyut nadi perekonomian “ masyarakat Jepara.
Setelah mengalami perubahan dari kerajinan tangan menjadi industri kerajinan, terutama bila dipandang dari segi sosial ekonomi, ukiran kayu Jepara terus melaju pesat, sehingga Jepara mendapatkan predikat sebagai kota ukir, setelah berhasil menguasai pasar nasional. Namun karena perkembangan dinamika ekonomi, pasar nasional saja belum merupakan jaminan, karena di luar itu pangsa pasar masih terbuka lebar. Oleh karena itu diperlukan kiat khusus untuk dapat menerobos pasar internasional.

Untuk melakukan ekspansi pasar ini buka saja dilakukan melalui pameran-pameran, tetapi juga dilakukan penataan-penataan di daerah. Langkah-langkah ini ditempuh dengan upaya meningkatkan kualitas muebel ukir Jepara, menejemen produksi dan menejemen pemasaran. Di samping itu dikembangkan “Semangat Jepara Incoporated “, bersatunya pengusaha Jepara dalam memasuki pasar ekspor, yang menuntut persiapan matang karena persaingan-persaingan yang begitu ketat .

Guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia misalnya, dilakukan melalui pendidikan Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri dan Akademi Teknologi Perkayuan dan pendidikan non formal melalui kursus-kursus dan latihan-latihan. Dengan penigkatan kualitas sumber daya manusia ini diharapkan bukan saja dapat memacu kualitas produk, tatapi juga memacu kemampuan para pengrajin dan pengusaha Jepara dalam pembaca peluang pasar dengan segala tentutannya.

Peningkatan kualitas produk dan pengawasan mutu memang menjadi obsesi Jepara dalam memasuki pasar internasional, yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan luar negri terhadap produk industri Jepara. Karena itu pengendalian mutu dengan mengacu pada sistim standard internasional merupakan hal yang tidak dapat di tawar-tawar lagi. Usaha ini dilakukan melalui pembinaan terhadap produsen agar mempertahankan mutu produknya dalam rangka menjamin mutu pelayanan sebagai mana dipersaratkan ISO 9000.

Di samping itu, perluasan dan intensifikasi pasar terus dilakukan dalam rangka meningkatkan ekspor serta peluasan pasar internasional dengan penganeragaman produk yang mempunyai potensi, serta peningkatan market intelligence untuk memperoleh transportasi pasar luar negeri. Dengan demikian para pengusaha dapat dengan tepat dan cepat mengantisipasi peluang serta tantangan yang ada dipasar internasional. Sementara itu jaringan informasi terus dilakukan melalu pengevektivan fungsi dan kegiatan Buyer Reception Desk yang ada di Jepara. Langkah-langkah konseptual yang dilakukan secara terus menerus ini telah berbuah keberhasilan yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat Jepara, berupa peningkatan kesejateraannya. Dari data yang ada dapat dijadikan cermin keberhasilan sektor meubel ukir dalam lima tahun terakhir.

Data diatas belum termasuk potensi kayu olahan , souvenir dan peti mati yang dalam tiga tahun terakhir telah berhasil dilealisir ekspornya. Untuk dapat melihat lebih jauh potensi ukir kayu ini juga dapat dilihat berbagai macam penghargaan, yang bersekala regional, nasional dan internasional, baik bagi para pengusaha, pengrajin maupun bagi pimpinan daerah.

Sumber :JeparaKab.go.id

Posted in industri kerajinan meubel ukir, Industri Mebel Ukir Jepara, Industri perabot ukiran kayu, industri seni di Jepara, industri ukir, jepara, kartini, kota jepara, kota ukir, masjid, masjid mantingan, motif bali, motif cirebon, motif jepara, motif madura, motif majapahit, motif pejajaran, motif pekalongan, motif seni ukir, motif ukiran jepara, motif-motif, para pengukir Jepara, pengrajin, pengrajin jepara, pengrajin ukir, pengukir Jepara, ra kartini, raden ajeng kartini, ratu kalinyamat, seni ukir, seni ukir di dunia, seni ukir jepara, sunan kalijaga, ukir, ukir jepara, ukir kayu | Tagged: , , , , , , , | 3 Comments »

Pemkab Jepara mematenkan 99 motif ukiran Jepara

Posted by amiruljepara on September 28, 2011

Motif Ukiran Khas Jepara

Motif Ukiran Khas Jepara

JEPARA,  Pemerintah Kabupaten Jepara mematenkan 99 motif ukir khas Jepara sekaligus mengajukan indikasi geografis produk-produk khas Jepara kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Tujuannya, melindungi motif ukir dan produk khas Jepara dari klaim negara lain, terutama dalam menyongsong perdagangan bebas ASEAN-China.

Bupati Jepara Hendro Martojo hari Kamis (18/2/2010) di Jepara, Jawa Tengah, mengatakan, perlindungan motif ukir khas Jepara sangat diperlukan. Kalau tidak dipatenkan, motif itu akan ditiru atau bahkan diklaim negara lain sehingga merugikan para perajin Jepara. Motif ukir yang dipatenkan itu, antara lain, adalah motif majapahitan dan kartini.

Pemkab Jepara juga berupaya melindungi produk-produk khas yang dihasilkan Jepara, antara lain adalah susu kambing Kali Jesing, ukiran Jepara, kerupuk tenggiri, kacang open, dan blenyek ngemplak Jepara (sejenis ikan laut yang dikeringkan). Untuk itu, pemerintah mengajukan perlindungan indikasi geografis,” katanya.

Indikasi geografis merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan asal produk barang atau jasa dari sebuah negara atau daerah terkait faktor alam, manusia, dan daerah asal.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jepara Akhmad Fauzi mengemukakan, Pemkab Jepara jangan terfokus pada perlindungan produk, tetapi juga perlindungan pengusaha lokal. Pemerintah perlu memerhatikan dan mengambil kebijakan-kebijakan yang pas terkait persoalan itu. (HEN)

sumber : kompas cetak

Posted in 99 produk asli jepara, blenyek ngemplak jepara, bupati jepara, hendro martojo, indikasi geografis, indikasi geografis jepara, indikasi geografis produk, jepara, jepara kota ukir, jepara motif, jepara sebagai pusat ukir, kacang open, kartini, kerajinan ukir jepara, kerupuk tengiri, motif, motif carving jepara, motif jepara, motif majapihatan, motif ukir, motif ukir khas jepara, motif-motif, mtif majapahitan, pemkab jepara, pengrajin, pengrajin jepara, pengrajin ukir, perlindungan indikasi geografis, susu kambing kali jesing, ukir, ukir kayu jepara, ukiran, ukiran jepara | Tagged: , , , , , | 1 Comment »

Motif Carving Jepara

Posted by amiruljepara on September 28, 2011

characteristics of general and special

characteristics of general and special

The forms of leaf carving on this motif form a triangle and oblique. At each end there are usually leaves or fruits with flowers will form a circle. The form is not just a single circle, but the shape is more than one or terraced. The circle at the base of larger, more to the tip has narrowed. There is also going to flower or fruit in the form of a large circle surrounded by several smaller circles.
SHAPE MOTIF:
1. Of Leaves.
Principal leaf motif has its own style, which is dome-shaped and circular-niche. At the finish there are niches that gather leaves.
Principal form of dome-shaped leaf-carved this niche when sliced, incorporating a triangular prism.
2. Flower AND Fruit.
Flowers and fruit at this Jepara motif convex (rounded) as fruit wine or fruit Wuni arranged rows or clustered. This flower is often found on the corner of the meetings niche of the principal or there are leaves on the end niche surrounded by leaves, while the interest follows the shape of its leaves.
3. Fractions.
In the fractional leaf motif carvings have 3 pieces of lines that follow the direction of leaf shape, so it looks like a light.
4. Facts:
Carving Jepara motif is basically made most of the base or not so deep, often made on the basis of (invisibility), engraving is often called krawangan carving or engraving a glass insert. Jepara carving motif is often used to decorate your craft goods.

Posted in carving jepara motif, characteristics of general and special jepara, craft goods, jepara motif, leaf motif carving, motif, motif carving jepara, motif jepara, motif ukir, motif-motif, special carving jepara, stlyle motif from jepara | Tagged: , , | Leave a Comment »

Ragam hias Bali

Posted by amiruljepara on September 24, 2011

motif ukiran bali

motif ukiran bali

Ciri penting dalam ragam hias ini adalah merupakan perkembangan dari motif Pejajaran dan motif Mojopahit hal ini ditinjau dari bentuk angkup dan sunggarnya.
Ragam hias Bali terdiri dari : Daun pokok, Daun sunggar, Angkup, Benangan, Ulir induk, Trubusan, Endong.

Uraian :
“Daun Pokok”
Dari ragam hias ini sifatnya cembung di tengah. Pada tengah-tengah daun pokok (bagian tertinggi) di buat pecahan.
“Daun Sunggar”
Lazimnya dinamakan ikal mursal atau rekalisitran. Sifatnya krawing dengan tumbuh ukir pada sisi dalam daun tersebut.
“Angkup”
Berbentuk hampir sama dengan angkup Pejajaran yang bersifat cembung.
“Benangan”
Dalam ragam hias ini diakhiri dengan bentuk ukir ditengah-tengah dan bersifat benangan timbul.
“Ulir Induk”
Pada ragam hias Bali mempunyai ciri  khusus yakni merupakan ujung dari pada benangan. Dalam pelaksanaan dari benangan ini yang bersifat cekung, diakhiri dengan bentuk ukir hingga ukir tersebut merupakan bentuk kaos.
“Trubusan”
Merupakan daun semi, tapi mempunyai ciri yang berlainan dengan trubusan yang terdapat pada ragam hias Pejajaran maupun Mojopahit, bentuk trubusan disini berupa ukiran yang cembung.
Kalau bentuk kecil trubusan berbentuk puker.
“Endong”
Sama halnya dengan ending pada ragam hias Pejajaran, mempunyai sifat pelengkap dan pemanis dari daun pokok.
Semua bentuk pecahan atau cawan merupakan lengkung dobel atau lengkung ganda.

Posted in angkup, angkup pejajaran, daun pokok, daun sunggar, endong, krawing, mojopahit, motif bali, motif majapahit, motif pejajaran, motif seni ukir, motif ukir, motif-motif, pejajaran, ragam hias bali, trubusan, ukir, ukiran, ulir | Tagged: , , , | 3 Comments »

Ragam hias pejajaran

Posted by amiruljepara on September 22, 2011

motif pejajaran

motif pejajaran

Ragam hias ini banyak terdapat di Jawa Barat karena merupakan hasil budayadari kerajaan Pejajaran. Peninggalan yang masih sampai sekarang banyak terdapat di makam Sunan Gunung Jati.
Dalam ragam hias ini kelihatan bentuk-bentuk yang bulat karena semua entuk ukiran di expresikan dengan buledan/cembung.
Ragam hias Pejajaran terdiri dari : Daun Pokok, Angkup, Cula, Endong, Simbar, Benangan, Pecahan, Trubusan.

Uraian :
“Daun Pokok”
Daun pokok/relung besar dibuat cembung/buladan. Hal ini membuat perkasanya sifat ragam hias ini.
“Angkup”
Angkup pada ragam hias ini dibuat cemung/buladan. Pada Tangkai angkup biasanya tumbuh trubusan pada bagian dalam.
“Cula”
Pada ragam hias Pejajaran ini ada sebentu daun kecil yang tumbuh dimuka daun pokok atau relung besar. Hali ini mungkin merupakan corak khusus ahwa di Jawa Barat dengan adanya binatang yang bercula yaitu binatang Badak.
“Endong”
Daun yang tumbuh di belakang daun pokok, bentuknya bersusun-susun dari bawah sampai atas daun pokok. Juga bersifat pengisi bidang-bidang kosong.
“Simbar”
Pada daun pokok bagian depan, tepatnya dibelakang benangan tumbuhlah daun-daun kecilyang berjajar keatas yang lazimnya disebut simbar. Hali ini lebih menambah wibawa dari ragam hias Pejajaran.
“Benangan”
Benangan berbentuk miring, dari bawah sampai akeatas berhenti pada ulir pokok.
“Pecahan”
Sebagaimana lazimnya motif ukir, pecahan merupakan pemanis,atau menambah luwesnya sebentuk daun yang sudah dipecahi.
“Trubusan”
Daun-daun kecil yang tumbuh disekitar daun pokok, juga bersifat pelengkap atau pengisi dari bidang-bidang yang kosong.

Posted in angkup, benangan, cula, daun pokok, endong, jambul, lemahan, motif pejajaran, motif seni ukir, motif ukir, motif-motif, pecahan, ragam hias pejajaran, ragam hias seni ukir klasik, simbar, sunan gunung jati, trubusan, ukir, ulir | Tagged: , , , | 5 Comments »