Jasa Ukir Online – Jasa Ukiran Khas Jepara

kami menerima jasa pengukiran majapahit kuno, mataram, modern eropa dan ukiran khas jepara lainnya serta jasa design ukiran

Archive for the ‘motif jepara’ Category

Relief ukir jepara perjalanan salib

Posted by amiruljepara on June 2, 2013

perjalanan salib 1

perjalanan salib 1

Relief ukir perjalanan salib produksi Furniture Amirul Group dibuat dengan kayu jati solid dengan ukuran 80cmx50cmx10cm. ketebalan 10cm membuat relief perjalanan salib ini timbul 3 dimensi dengan ukuran yang diperkecil. relief perjalanan salib ini merupakan hasil representasi dari lukisan yang dibuat menjadi karya seni kayu ukir 3 dimensi. detail yang kami utamakan menjadi relief ini disukai banyak konstumer kami, relief ini adalah pesanan salah satu custumer kami dari bandung. sebisa mungkin furniture amirul group menghadirkan yang terbaik buat pelanggan setia. sekarang bisa memesan dengan gambar sendiri. untuk pemesanan bisa menuju pada halaman contact us

Posted in design motif ukir, design ukir, design ukir jepara, hasil ukiran, jasa ukir, jasa ukir jepara, jasa ukir kayu, jasa ukiran, jepara, jepara kota ukir, kerajian ukir, kerajinan kayu, kerajinan ukir, kerajinan ukir jepara, meubel ukir, motif jepara, nilai-nilai budaya ukir, para pengukir Jepara, patung ukir, pengrajin ukir, pengusaha ukiran, produk industri ukir, produk ukir jepara, produk ukir unggulan jepara, produk ukiran, produksi mebel ukir Jepara, relief 3 dimensi, relief perjalanan salib, relief ukir jepara, seni ukir, seni ukir di dunia, seni ukir jepara, seni ukir khas Jepara, seni ukir klasik, seniman ukir, seniman ukir jepara, ukir, ukir 3 dimensi, ukir jepara, ukir kayu, ukir kayu di jepara, ukir kayu jepara, ukir tradisional, ukir-ukiran Jepara, ukiran, ukiran jepara, ukiran kayu, Ukiran Relief 3 Dimensi Unik Khas Jepara, Ukiran relief Jepara, warisan budaya mengukir jepara dari indonesia | Leave a Comment »

Mengenal Potensi Masyarakat Jepara Sebagai Kota Ukir

Posted by amiruljepara on October 24, 2011

jasa ukir jepara

jasa ukir jepara

Satu citra yang telah begitu melekat dengan Jepara adalah predikatnya sebagai “Kota Ukir”. Ukir kayu telah menjadi idiom kota kelahiran Raden Ajeng Kartini ini, dan bahkan belum ada kota lain yang layak disebut sepadan dengan Jepara untuk industri kerajinan meubel ukir. Namun untuk sampia pada kondisi seperti ini, Jepara telah menapak perjalana yang sangat panjang. Sejak jaman kejayaan Negara-negara Hindu di Jawa Tengah, Jepara Telah dikenal sebagai pelabuhan utara pantai Jawa yang juga berfungsi pintu gerbang komunikasi antara kerajaan Jawa denga Cina dan India .

Demikian juga pada saat kerajan Islam pertama di Demak, Jepara telah dijadikan sebagai pelabuhan Utara disamping sebagai pusat perdagangan dan pangkalan armada perang. Dalam masa penyebaran agama Islam oleh para Wali, Jepara juga dijadikan daerah “ pengabdian” Sunan Kalijaga yang mengembangkan berbagai macam seni termasuk seni ukir.

Factor lain yang melatar belakangi perkembangan ukir kayu di Jepara adalah para pendatang dari negeri Cina yang kemudian menetap. Dalam catatan sejarah perkembangan ukir kayu juga tak dapat dilepaskan dari peranan Ratu Kalinyamat . Pada masa pemerintahannya ia memiliki seorang patih yang bernama “Sungging Badarduwung” yang berasal dari Negeri Campa Patih ini ternyata seorang ahli pahat yang dengan sukarela mengajarkan keterampilannya kepada masyarakat disekitarnya Satu bukti yang masih dapat dilihat dari seni ukir masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah adanya ornament ukir batu di Masjid Mantingan.

Disamping itu , peranan Raden Ajeng Kartini dalam pengembangkan seni ukir juga sangat besar. Raden Ajeng Kartini yang melihat kehidupan para pengrajin tak juga beranjak dari kemiskinan, batinnya terusik, sehingga ia bertekat mengangkat derajat para pengrajin. Ia memanggil beberapa pengrajin dari Belakang Gunung (kini salah satu padukuhan Desa mulyoharjo) di bawah pimpinan Singowiryo, untuk bersama-sama membuat ukiran di belakang Kabupaten. Oleh Raden Ajeng Kartini, mereka diminta untuk membuat berbagai macam jenis ukiran, seperti peti jahitan, meja keci, pigura, tempat rokok, tempat perhiasan, dan lain-lain barang souvenir. Barang-barang ini kemudian di jual Raden Ajeng Kartini ke Semarang dan Batavia (sekarang Jakarta ), sehingga akhirnya diketahui bahwa masyarakat Jepara pandai mengukir.
Setelah banyak pesanan yang datang, hasil produksi para pengrajin Jepara bertambah jenis kursi pengantin, alat panahan angin, tempat tidur pengantin dan penyekat ruangan serta berbagai jenis kursi tamu dan kursi makan. Raden Ajeng Kartini juga mulai memperkenalkan seni ukir Jepara keluar negeri. Caranya, Raden Ajeng kartini memberikan souvenir kepada sahabatnya di luar negeri. Akibatnya ukir terus berkembang dan pesanan terus berdatangan. Seluruh penjualan barang, setelah dikurangi dengan biaya produksi dan ongkos kirim, uangnya diserahkan secara utuh kepada para pengrajin.

Untuk menunjang perkembangan ukir Jepara yang telah dirintis oleh Raden Ajeng Kartini, pada tahun 1929 timbul gagasan dari beberapa orang pribumi untuk mendirikan sekolah kejuruan. Tepat pada tanggal 1 Juli 1929, sekolah pertukangan dengan jurusan meubel dan ukir dibuka dengan nama “Openbare Ambachtsschool” yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Teknik Negeri dan Kemudian menjadi Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri.

Dengan adanya sekolah kejuruan ini, kerajinan meubul dan ukiran semaluas di masyarakat dan makin banyak pula anak–anak yang masuk sekolah ini agar mendapatkan kecakapan di bidang meubel dan meubel dan ukir. Di dalam sekolah ini agar diajarkan berbagai macam desain motif ukir serta ragam hias Indonesia yang pada mulanya belum diketahui oleh masyarakat Jepara . Tokoh-tokoh yang berjasa di dalam pengembangan motif lewat lembaga pendidikan ini adalah Raden Ngabehi Projo Sukemi yang mengembangkan motif majapahit dan Pajajaran serta Raden Ngabehi Wignjopangukir mengembangkan motif Pajajaran dan Bali.
Semakin bertambahnya motif ukir yang dikuasai oleh para pengrajin Jepara , meubel dan ukiran Jepara semakin diminati. Para pedagang pun mulai memanfaatkan kesempatan ini, untuk mendapatkan barang-barang baru guna memenuhi permintaan konsumen, baik yang berada di dalam di luar negeri.Kemampuan masyarakat Jepara di bidang ukir kayu juga diwarnai dengan legenda . Dikisahkan, pada jaman dahulu ada seorang seniman bernama Ki Sungging Adi Luwih yang tinggal di suatu kerajaan. Ketenaran seniman ini didengar oleh sang raja yang kemudian memesan gambar permaisuri. Singkat cerita, KiSungging berhasil menyelesaikan pesanan dengan baik. Namun ketika ia akan menambahkan warna hitam pada rambut, terpeciklah tinta hitam dibagian pangkal paha gambar sang permaisuri sehingga nampak seperti tahi lalat. Gambar ini kemudian diserahkan kepada raja yang sangat kagum terhadap hasil karya Ki Sungging.

Namun raja juga curiga karena ia melihat ada tahi lalat dipangkal paha. Raja menduga Ki Sungging talah melihat permaisuri telanjang. Oleh karena itu raja berniat menghukum Ki Sungging dengan membuat patung di udara dengan naik layang-layang. Pada waktu yang telah ditentukan ki Sungging naik layang-layang dengan membawa pelengkapan pahat untuk membuat patung permaisuri.
Namun karena angina bertiup sangat kencang, patung setengah jadi itu akhirnya terbawa angin dan jatuh di pulau Bali. Benda ini akhirnya ditemukan oleh masyarakat Bali, sehingga masyarakat setempat sekarang dikenal sebagai ahli membuat patung. Sedangkan peralatan memahat jatuh di belakang gunung dan konon dari kawasan inilah ukir Jepara mulai berkembang.
Terlepas dari cerita legenda maupun sejarahnya, seni ukir Jepara kini telah dapat berkembang dan bahkan merupakan salah satu bagian dari “nafas kehidupan dan denyut nadi perekonomian “ masyarakat Jepara.
Setelah mengalami perubahan dari kerajinan tangan menjadi industri kerajinan, terutama bila dipandang dari segi sosial ekonomi, ukiran kayu Jepara terus melaju pesat, sehingga Jepara mendapatkan predikat sebagai kota ukir, setelah berhasil menguasai pasar nasional. Namun karena perkembangan dinamika ekonomi, pasar nasional saja belum merupakan jaminan, karena di luar itu pangsa pasar masih terbuka lebar. Oleh karena itu diperlukan kiat khusus untuk dapat menerobos pasar internasional.

Untuk melakukan ekspansi pasar ini buka saja dilakukan melalui pameran-pameran, tetapi juga dilakukan penataan-penataan di daerah. Langkah-langkah ini ditempuh dengan upaya meningkatkan kualitas muebel ukir Jepara, menejemen produksi dan menejemen pemasaran. Di samping itu dikembangkan “Semangat Jepara Incoporated “, bersatunya pengusaha Jepara dalam memasuki pasar ekspor, yang menuntut persiapan matang karena persaingan-persaingan yang begitu ketat .

Guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia misalnya, dilakukan melalui pendidikan Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri dan Akademi Teknologi Perkayuan dan pendidikan non formal melalui kursus-kursus dan latihan-latihan. Dengan penigkatan kualitas sumber daya manusia ini diharapkan bukan saja dapat memacu kualitas produk, tatapi juga memacu kemampuan para pengrajin dan pengusaha Jepara dalam pembaca peluang pasar dengan segala tentutannya.

Peningkatan kualitas produk dan pengawasan mutu memang menjadi obsesi Jepara dalam memasuki pasar internasional, yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan luar negri terhadap produk industri Jepara. Karena itu pengendalian mutu dengan mengacu pada sistim standard internasional merupakan hal yang tidak dapat di tawar-tawar lagi. Usaha ini dilakukan melalui pembinaan terhadap produsen agar mempertahankan mutu produknya dalam rangka menjamin mutu pelayanan sebagai mana dipersaratkan ISO 9000.

Di samping itu, perluasan dan intensifikasi pasar terus dilakukan dalam rangka meningkatkan ekspor serta peluasan pasar internasional dengan penganeragaman produk yang mempunyai potensi, serta peningkatan market intelligence untuk memperoleh transportasi pasar luar negeri. Dengan demikian para pengusaha dapat dengan tepat dan cepat mengantisipasi peluang serta tantangan yang ada dipasar internasional. Sementara itu jaringan informasi terus dilakukan melalu pengevektivan fungsi dan kegiatan Buyer Reception Desk yang ada di Jepara. Langkah-langkah konseptual yang dilakukan secara terus menerus ini telah berbuah keberhasilan yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat Jepara, berupa peningkatan kesejateraannya. Dari data yang ada dapat dijadikan cermin keberhasilan sektor meubel ukir dalam lima tahun terakhir.

Data diatas belum termasuk potensi kayu olahan , souvenir dan peti mati yang dalam tiga tahun terakhir telah berhasil dilealisir ekspornya. Untuk dapat melihat lebih jauh potensi ukir kayu ini juga dapat dilihat berbagai macam penghargaan, yang bersekala regional, nasional dan internasional, baik bagi para pengusaha, pengrajin maupun bagi pimpinan daerah.

Sumber :JeparaKab.go.id

Posted in industri kerajinan meubel ukir, Industri Mebel Ukir Jepara, Industri perabot ukiran kayu, industri seni di Jepara, industri ukir, jepara, kartini, kota jepara, kota ukir, masjid, masjid mantingan, motif bali, motif cirebon, motif jepara, motif madura, motif majapahit, motif pejajaran, motif pekalongan, motif seni ukir, motif ukiran jepara, motif-motif, para pengukir Jepara, pengrajin, pengrajin jepara, pengrajin ukir, pengukir Jepara, ra kartini, raden ajeng kartini, ratu kalinyamat, seni ukir, seni ukir di dunia, seni ukir jepara, sunan kalijaga, ukir, ukir jepara, ukir kayu | Tagged: , , , , , , , | 3 Comments »

history of jepara carving

Posted by amiruljepara on October 5, 2011

history of jepara carving

history of jepara carving

Menurut Legenda
Dikisahkan seorang ahli seni pahat ukir dan lukis bernama Prabangkara yang hidup pada masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, pada suatu ketika sang raja menyuruh Prabangkara untuk membuat lukisan permaisuri raja sebagai ungkapan rasa cinta beliau pada permaisurinya yang sangat cantik dan mempesona.

Lukisan permaisuri yang tanpa busana itu dapat diselesaikan oleh Prabangkara dengan sempurna dan tentu saja hal ini membuat Raja Brawijaya menjadi curiga karena pada bagian tubuh tertentu dan rahasia terdapat tanda alami/khusus yang terdapat pula pada lukisan serta tempatnya/posisi dan bentuknya persis. Dengan suatu tipu muslihat, Prabangkara dengan segala peralatannya dibuang dengan cara diikat pada sebuah layang-layang yang setelah sampai di angkasa diputus talinya.

Dalam keadaan melayang-layang inilah pahat Prabangkara jatuh di suatu desa yang dikenal dengan nama Belakang Gunung di dekat kota Jepara.
Di desa kecil sebelah utara kota Jepara tersebut sampai sekarang memang banyak terdapat pengrajin ukir yang berkualitas tinggi. Namun asal mula adanya ukiran disini apakah memang betul disebabkan karena jatuhnya pahat Prabangkara, belum ada data sejarah yang mendukungnya.

Menurut Sejarah
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, terdapat seorang patih bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa (Kamboja) ternyata seorang ahli memahat pula. Sampai kini hasil karya Patih tersebut masih bisa dilihat di komplek Masjid Kuno dan Makam Ratu Kalinyamat yang dibangun pada abad XVI.

Keruntuhan Kerajaan Majapahit telah menyebabkan tersebarnya para ahli dan seniman hindu ke berbagai wilayah paruh pertama abad XVI. Di dalam pengembangannya, seniman-seniman tersebut tetap mengembangkan keahliannya dengan menyesuaikan identitas di daerah baru tersebut sehingga timbulah macam-macam motif kedaerahan seperti : Motif Majapahit, Bali, Mataram, Pejajaran, dan Jepara yang berkembang di Jepara hingga kini.  the claim token 5ZFK68VYCWCQ

Posted in ahli seni pahat, belakang gunung jepara, jepara, kota jepara, lukisan permaisuri raja, mojopahit, motif, motif bali, motif jepara, motif majapahit, motif majapihatan, motif pejajaran, pahat prabangkara, pengrajin dan pengusaha jepara, pengrajin ukir yang berkualitas tinggi, Prabangkara, raja brawijaya, ratu kalinyamat, Sungging Badarduwung, ukiran champa | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

Ragam hias Jepara

Posted by amiruljepara on October 3, 2011

ragam hias jepara

motif ukiran jepara

Ragam hias Jepara merupakan expresi dari pada bentuk-bentuk tanaman yang menjalar.  Tiap ujung relungnya berjumbai daun-daun krawing yang sangat dinamis, biasana di tengah jumbai terdapat buah-buah kecil yang berbentuk lingkaran.
Ciri ragam hias ini dapat dilihat dengan adanya berjenis-jenis burung Merak. Tangkai relungnya panjang-panjang melingkar disana sini membentuk cabang kecil, berfungsi sebagai pengisi ruang / pemanis.
Pelaksanaan penampoang tangkai berbentuk segitiga. Daun-daun trubusan keluar bebas pada setiap tangkai relung.

Ragam hias Jepara terdiri dari : Tangkai Relung, Jumbai/Ujung Relung, Trubusan.

Uraian :
“Tangkai Relung”
Tangkai Relung dari ragam hias Jepara ini berbentuk garis memanjang dan menjalar dengangayamelingkar. Penampang tangkai relung ini berbentuk segitiga dalam pelaksanaannya.

“Jumbai/Ujung Relung”
Pada ragam hias  Jepara juga merupakan kumpulan bermacam-macam daun seperti kipas yang sedang terbuka dengan disertai ujung-ujung daun yang runcing. Pada pangkal daun biasanya keluar buah 3 atau 4 biji.

“Trubusan”
Daun trubusan dalam ragam hias ini ada 2 macam :

  1. Yang keluar dari sepanjang tangkai relung.
  2. Yang keluar dari ruas / cabang

Pada trubus ini biasanya dibuat buah-buah lingkaran yang berjajar memanjang. Ragam hias Jepara banyak digunakan pada fentelasi-fentilasi / lubang angin pada pintu-pintu rumah adat / masjid-masjid.

Posted in fentelasi, Jumbai/Ujung Relung, lubang angin, masjid, motif jepara, motif ukir, motif ukir khas jepara, motif ukiran jepara, pintu rumah adat, ragam hias jepara, Tangkai Relung, trubusan | Tagged: , , , , , , , , | 4 Comments »

Pemkab Jepara mematenkan 99 motif ukiran Jepara

Posted by amiruljepara on September 28, 2011

Motif Ukiran Khas Jepara

Motif Ukiran Khas Jepara

JEPARA,  Pemerintah Kabupaten Jepara mematenkan 99 motif ukir khas Jepara sekaligus mengajukan indikasi geografis produk-produk khas Jepara kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Tujuannya, melindungi motif ukir dan produk khas Jepara dari klaim negara lain, terutama dalam menyongsong perdagangan bebas ASEAN-China.

Bupati Jepara Hendro Martojo hari Kamis (18/2/2010) di Jepara, Jawa Tengah, mengatakan, perlindungan motif ukir khas Jepara sangat diperlukan. Kalau tidak dipatenkan, motif itu akan ditiru atau bahkan diklaim negara lain sehingga merugikan para perajin Jepara. Motif ukir yang dipatenkan itu, antara lain, adalah motif majapahitan dan kartini.

Pemkab Jepara juga berupaya melindungi produk-produk khas yang dihasilkan Jepara, antara lain adalah susu kambing Kali Jesing, ukiran Jepara, kerupuk tenggiri, kacang open, dan blenyek ngemplak Jepara (sejenis ikan laut yang dikeringkan). Untuk itu, pemerintah mengajukan perlindungan indikasi geografis,” katanya.

Indikasi geografis merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan asal produk barang atau jasa dari sebuah negara atau daerah terkait faktor alam, manusia, dan daerah asal.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jepara Akhmad Fauzi mengemukakan, Pemkab Jepara jangan terfokus pada perlindungan produk, tetapi juga perlindungan pengusaha lokal. Pemerintah perlu memerhatikan dan mengambil kebijakan-kebijakan yang pas terkait persoalan itu. (HEN)

sumber : kompas cetak

Posted in 99 produk asli jepara, blenyek ngemplak jepara, bupati jepara, hendro martojo, indikasi geografis, indikasi geografis jepara, indikasi geografis produk, jepara, jepara kota ukir, jepara motif, jepara sebagai pusat ukir, kacang open, kartini, kerajinan ukir jepara, kerupuk tengiri, motif, motif carving jepara, motif jepara, motif majapihatan, motif ukir, motif ukir khas jepara, motif-motif, mtif majapahitan, pemkab jepara, pengrajin, pengrajin jepara, pengrajin ukir, perlindungan indikasi geografis, susu kambing kali jesing, ukir, ukir kayu jepara, ukiran, ukiran jepara | Tagged: , , , , , | 1 Comment »