Jasa Ukir Online – Jasa Ukiran Khas Jepara

kami menerima jasa pengukiran majapahit kuno, mataram, modern eropa dan ukiran khas jepara lainnya serta jasa design ukiran

Seni ukir jepara

Posted by amiruljepara on September 16, 2011

kursi raja jepara

Jepara sudah identik dengan kerajinan ukir. Kerajinan ukir tersebut kini telah berkembang menjadi industri, terutama industri mebel. Industri mebel di Jepara tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga melayani pasar internasional. Cikal bakal industri tersebut sudah muncul sejak ratusan tahun yang lalu sehingga pemusatan industri dilakukan secara geografis dengan industri pendukung yang kita kenal sebagai klaster (cluster) Industri. kalau dilihat dari segi omset maupun jumlah tenaga kerja yang terserap di dalamnya, Jepara merupakan klaster terbesar di Indonesia.
Perkembangan kerajinan ukir di Jepara menurut kami, didukung oleh positioning, diferensiasi dan brand Jepara yang kuat.Segitiga positioning, diferensiasi dan brand merupakan inti dari strategi yang dijalankan oleh sebuah daerah.

Positioning adalah tentang bagaimana kita memposisikan produk kita di benak pelanggan. Positioning tersebut harus didukung dengan diferensiasi yang kokoh. Apabila positioning yang tepat tersebut ditopang oleh diferensiasi yang kokoh, dengan sendirinya ekuitas merek yang kokoh akan terbentuk.
Kalau Jepara dianalisis dengan menggunakan segitiga positioning, diferensiasi, brand tersebut, maka akan terlihat bagan di atas.
Menurut pengamatan kami, positioning statement yang tepat untuk Jepara adalah “the Carving Center of Indonesia” atau pusatnya kerajinan ukir dan jasa ukir di Indonesia.

Selama ini, di benak pelanggan kesan Jepara sebagai pusat kerajinan ukir tertancap kuat.Bukan hanya di pasar lokal, namun juga di pasar internasional.
Bahkan di pasar Internasional, produk ukir Jepara dikenal sebagai ukiran berkualitas, dengan detail dan finishing yang halus. Mencanangkan positioning Jepara sebagai pusat ukir, berarti seluruh stakeholder kerajinan ukir Jepara harus mempertahankan citra yang sudah tertanam di benak pelanggan. Mebel merupakan media ukir yang paling banyak dihasilkan oleh industri ukir di Jepara.
Positioning sebagai pusat kerajinan ukir tersebut telah dibuktikan dengan diferensiasi yang kuat yang dimiliki oleh Jepara. Kabupaten ini memiliki diferensiasi sebagai pusat klaster industri mebel ukir. Sentra industri mebel ukir tersebar di 13 kecamatan di Jepara. Menurut catatan pemerintah, tahun 2004 di jepara terdapat 3.539 unit produksi unit usaha mebel. Itu merupakan unit usaha yang terdaftar pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi,dan Penanaman modal. Di luar itu, diperkirakan masih terdapat 15.000 unit usaha dengan skala kecil. Dari total industri mebel yang ada, Jepara mampu menyerap sekitar 85.000 tenaga kerja.
Industri Mebel bagi kabupaten Jepara menjadi sektor unggulan. Sektor ini adalah penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi. Tercatat pada tahun 1998, sektor industri ini menempati posisi 61,3 % diikuti sektor perdagangan, hotel dan restauran (29,9%), sektor pertanian (3,4%), sektor jasa ukir (2,7%) dan sektor keuangan sebesar 2,4%.
Setiap bulannya, Jepara mampu menghasilkan rata-rata 400 kontainer mebel ukir untuk pasar ekspor. Kapasitas ekspor tersebut biasanya akan meningkat pada sekitar bulan September-Maret hingga 600-700 kontainer untuk memenuhi permintaan
pasar. Data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal Jepara menunjukkan realisasi ekspor mebel dan berbagai jenis kerajinan telah menembus 78 negara. Dari ratusan eksportir yang ada, volume ekspor yang dihasilkan sebesar 52.642,5 ton dengan nilai 112,6 juta dolar AS. Apa yang mendukung tumbuhnya klaster industri ukir Jepara? Tak lain adalah faktor talenta atau keterampilan orang Jepara sebagai perajin ukir yang andal.
Keterampilan orang Jepara ini juga menjadi diferensiasi yang kuat. Keterampilan ukir bagi orang Jepara sudah diwarisi secara turun-temurun sejak beberapa abad yang lalu.
Menurut sejarah, karya seni ukir pertama kali di Jepara terdapat di Masjid Mantingan yang dibangun pada tahun 1559. Ukiran tersebut dipahatkan pada batu putih bermotif bunga. Ukiran batu itu merupakan karya seniman dari China yang bernama Tji Wie Gwan. Singkat cerita, Ratu kalinyamat, penguasa Jepara saat itu
menganugerahkan sebuah nama baru untuk Tji Wie Gwan menjadi Sungging Badar Duwung. Sungging artinya ahli ukir, Badar sama dengan batu dan Duwung artinya tatah.
Selanjutnya Sungging Badar Duwung mengajarkan ilmu ukir kepada masyarakat di sekitarnya baik di daerah Jepara maupun di Kudus. Maka seni ukir sudah menjadi tradisi masyarakat Jepara.
Selain merupakan keterampilan yang turun-temurun, talenta perajin ukir di Jepara didukung dengan tersedianya pendididikan formal yang khusus melatih keterampilan mengukir. Di tingkat menengah, terdapat SMK Negeri 2 Jepara, yang khusus
mendidik siswa di bidang Seni Rupa dan Kerajinan. Selain kerajinan ukir kayu, dilatih pula kerajinan batik, keramik, dan logam. Sedangkan di tingkat perguruan tinggi, terdapat Akademi Teknologi Industri Kayu Jepara (ATIKA). Akademi ini
membuka program studi Manajemen Industri Kayu, Desain Kayu, dan Teknik Mesin Kayu,yang sekarang berubah menjadi STTDNU.
Mulai tahun 2003, Jepara membuka Sekolah Ukir dengan nama Pusat Pelatihan Keterampilan Ukir Kayu FEDEP Jepara (PPKUFJ) yang dikelola oleh FEDEP (Forum for Economic Development and Employment Promotion) atau Forum Pengembangan Ekonomi
dan Perluasan Lapangan Kerja. Sekolah yang dibangun atas bantuan kedutaan Jepang ini berdiri di sentra industri ukir Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan. Sekolah ini menyediakan fasilitas gedung, asrama, dan peralatan praktik. Kurikulum yang digunakan berbasis kompeten perkayuan. Para siswa selama sembilan bulan mendapatkan pendidikan di kelas, dan 3 bulan berikutnya akan menjalani magang di industri.
Tidak jauh dari Jepara, yakni di kota Semarang, dibuka juga Pendidikan Industri Kayu (PIKA). Sekolah yang bergerak di bidang desain dan teknik perkayuan ini telah memperoleh sertifikasi ISO 9001:2001. Selain talenta, cluster Jepara didukung oleh tersedianya pasokan bahan baku kayu jati dan mahoni dari daerah seputar Jepara. Kayu tersebut bisa didapatkan dari Perhutani, pedagang kayu, maupun hutan rakyat. Daerah penghasil kayu yang selama ini memasok kayu untuk mebel Jepara adalah Boyolali, Blora, Kendal, Klaten, Pemalang, Rembang, dan Sragen. Namun belakangan ini kayu jati menjadi langka karena kebijakan Perhutani yang membatasi volume tebang kayu jati, sedangkan, permintaan pasar yang terus meningkat membutuhkan pasokan dalam jumlah besar. Kebutuhan kayu jati di Jepara yang semula di bawah 100.000 meter kubik per tahun, melonjak menjadi 600.000 -800.000 meter kubik. Karena pasokan kayu dari daerah sekitar tidak lagi mencukupi, beberapa produsen berinisiatif melakukan impor kayu.
Pada tahun 1980 dan awal 1990an, pemerintah melalui Program Pembinaan dan Pengembangan Industri Kecil Departemen Perindustrian mendirikan unit pelayanan teknis (UPT) yang memperkenalkan teknologi pengeringan kayu. Pemerintah juga melakukan pelatihan dan memberikan bantuan peralatan kepada sejumlah produsen. Pelatihan tersebut kemudian diikuti dengan penyediaan kredit kepada produsen terpilih. Pemerintah juga menyediakan pelatihan kepada para pedagang maupun produsen bagaimana menembus pasar ekspor untuk menghadapi pasar bebas.
Sedangkan untuk mengembangkan klaster lebih jauh lagi, pemerintah melakukan perbaikan infrastruktur berupa perbaikan jalan dan pengadaan sara telekomunikasi. Pemerintah juga mensponsori pameran mebel baik dalam skala regional, nasional, maupun internasional, yang dananya diambil dari APBD. Pemerintah Jepara juga memberlakukan pajak untuk pengapalan kayu setengah jadi dari Jepara untuk mengerem keluarnya bahan baku mebel ke luar Jepara. Pemerintah Jawa Tengah juga melarang ekspor kayu gelondongan.
Selain unsur pemerintah, pengembangan klaster mebel Jepara juga melibatkan produsen, asosiasi pedagang, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan masyarakat Jepara sendiri. FEDEP Jepara merupakan forum yang sangat aktif dalam mengadakan pelatihan-pelatihan bagi produsen maupun pedagang. Salah satu asosiasi yang aktif mendukung perkembangan klaster di Jepara adalah Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia Komda Jepara (Asmindo Komda Jepara).
Asosiasi ini menjadi tempat berkumpul dan merancang program bersama. Asosiasi ini juga memberi kontribusi kebijakan ke pemerintah di bidangnya, sebagai pusat informasi tentang mebel. Asmindo berfungsi sebagai akses informasi serta mengkoordinasikan anggota untuk ikut dalam berbagai pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Selain Asmindo, pertumbuhan klaster juga didiukung oleh Himpunan Pedagang Kayu Jati Jepara (HPKJ). Asosiasi ini cukup berpengaruh dalam penentuan bahan baku dan harga.
Selain peranan asosiasi pedagang, produsen, dan LSM, pertumbuhan klaster industri di Jepara juga didukung oleh posisi geografis kabupaten ini yang cukup strategis. Jepara terletak tidak jauh dengan kota Semarang yang lengkap dengan infrastruktur untuk menjangkau pasar ekspor.Letaknya di Jawa Tengah membuat Jepara diapit oleh dua metropolitan, yakni Surabaya dan Jakarta yang merupakan pasar domestik yang tinggi daya serapnya. Selain memanfaatkan Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, kegiatan ekspor juga bisa menggunakan Tanjung Perak Surabaya dan Tanjung Priok Jakarta. Kemudahan akses untuk mencapai pasar ini merupakan diferensiasi tersendiri bagi Jepara.
Kegiatan ekspor ini berjalan lancar, apalagi setelah pemerintah pada tahun 1986 mengeluarkan deregulasi ekspor yang mempermudah prosedur ekspor. Sejak tahun 1990 banyak pengusaha asing datang ke Jepara untuk ambil bagian dalam bisnis mebel. Beberapa diantaranya bermitra dengan pengusaha lokal. Pengusaha lokal bertindak sebagai penguhubung dengan produsen, sedangkan pengusaha asing berperan dalam mencari pasar ekspor. Datangnya Pengusaha asing yang mempunyai kaiten dengan para wholesaler tersebut semakin memeriahkan bisnis jasa ekspor di Jepara.
Tumbuhnya bisnis jasa ukir ini juga menjadi kekuatan sendiri bagi Jepara. Sayang para pedagang yang bergerak dalam bidang ekspor ini bisa mempengaruhi harga. Hal ini mendorong para produsen untuk menurunkan harga dengan mengambil margin yang kecil demi mengejar omset yang besar. Hal ini mengakibatkan jatuhnya harga produk dan turunnya standar mutu produk. Padahal seharusnya para produsen tidak boleh mengejar keuntungan jangka pendek dengan mengabaikan keuntungan jangka panjang. Jatuhnya harga dan turunnya mutu produk dapat merusak citra industri ukir Jepara.
Naiknya permintaan pasar produk ukir Jepara telah ditindaklanjuti dengan keluarnya kebijakan baru dari pemerintah untuk membuka investai asing di bidang mebel tahun 1997. Menurut Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal, hingga awal Juni 2004 investasi yang masuk Jepara Rp 4 triliun lebih. Dibukannya keran investor tersebut mendorong sejumlah investor untuk menanamkan modal di industri ini. Pemerintah membuka Kantor Pelayanan Satu Atap (KPSA) untuk melayani proses perizinan investasi agar tidak berbelit-belit. Lewat KPSA, perizinan membutuhkan waktu 5-7 hari. Dukungan finansial juga menjadi diferensiasi yang kuat bagi industri mebel ukir Jepara. Selain investasi, beberapa bank turut mengucurkan modal bagi pelaku industri. Sayang sekali masih banyak perajin yang masuk dalam kategori UKM, yang masih memakai manajemen tradisional susah memenuhi persyaratan kredit yang diberlakukan beberapa bank. Karena untuk mengajukan kredit senilai 500 juta ke atas kepada Bank disyaratkan beberapa hal seperti bisnis plan, hasil-hasil pembukuan serta pencatatan transaksi lainnya yang berkaitan dengan usaha yang dimiliki.
Positioning sebagai pusat kerajinan ukir dan diferensiasi yang dimiliki oleh Jepara akan semakin memperkuat merek Jepara. Selama ini, Pemda Jepara bekerja sama dengan para pelaku bisnis telah melakukan promosi dengan mengikuti berbagai pameran, baik lokal maupun internasional. Para produsen juga telah melakukan inovasi produk dengan menciptakan alternatif kayu jati yang semakin langka. Demikian pula halnya dengan desain produk. Selain mempertahankan desain yang klasik, para produsen juga mulai memasuki model desain kontemporer. Itu semua mendukung merek Jepara sebagai produsen kerajinan ukir.
Namun Jepara harus berhati-hati karena persaingan di bidang produk ukir, terutama di pasar internasional semakin ketat. Walaupun pasar internasional sudah bertahun-tahun mengenal Jepara sebagai penghasil mebel ukir dengan kualitas bagus, tetapi Jepara harus berhati-hati dengan para pesaing seperti China dan Vietnam yang dikenal sebagai penghasil mebel dengan harga yang lebih murah. Tantangan yang harus dihadapi adalah bagaimana Jepara bisa mempertahankan mereknya di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat ini. Berdasarkan model positioning, diferensiasi, dan merek di atas, kalau Jepara bisa mempertahankan masing-masing elemen dari inti strategi Pemasaran tersebut, niscaya Jepara dapat memenangi persaingan.

About these ads

3 Responses to “Seni ukir jepara”

  1. [...] dan corak kesenian Hindu yang lemah gemulai, memberi kesutan pada seni ukirIndonesia menjadi luwes, laras dan ngrawit. Lagi pula kekayaan motif tumbuh-tumbuhan dan binatang, [...]

  2. [...] keunggulan. Nilai tambahnya justru karena masih banyaknya sentuhan tangan tersebut. Khususnya pada seni ukir yang terpahat di produk mebel [...]

  3. [...] Demikian juga pada saat kerajan Islam pertama di Demak, Jepara telah dijadikan sebagai pelabuhan Utara disamping sebagai pusat perdagangan dan pangkalan armada perang. Dalam masa penyebaran agama Islam oleh para Wali, Jepara juga dijadikan daerah “ pengabdian” Sunan Kalijaga yang mengembangkan berbagai macam seni termasuk seni ukir. [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: